Sri Mulyani: Nanti Anyer-Panarukan akan Jadi Kota, Kota, Kota...

Kompas.com - 27/03/2017, 16:00 WIB
Yoga Sukmana Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Senin (19/12/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memprediksi Indonesia akan menjadi negara urbanisasi. Pulau Jawa diyakini akan menjadi pusat perpindahan penduduk dari desa ke kota tersebut.

"Nanti Anyer sampai Panarukan itu akan (jadi) kota, kota, kota, kota. Dia akan menjadi tempat urbanisasi seluruh pulau," ujar Sri Mulyani dalam acara Investor Gathering 2017 di Jakarta, Senin (27/3/2017).

Saat ini, tingkat pertumbuhan populasi area urbanisasi di Indonesia mencapai angka 4,1 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan India yang hanya 3,1 persen, bahkan China hanya 3,8 persen.

Menurut perempuan yang kerap disapa Ani itu, pertumbuhan populasi di area urbanisasi tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di atas 5 persen dan stabil dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Sayangnya populasi di Indonesia relatif tidak terstruktur layaknya di China. Kemampuan penyediaan perumahan bagi masyakarat di area urbanisasi masih terbatas.

Wilayah perkotaan terancam dipenuhi pemukiman-pemukiman kumuh akibat ledakan populasi namun ketersediaan perumahan tidak mencukupi.

Sri Mulyani yang sempat menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, pernah meneliti ledakan urbanisasi di China dana Asia Selatan. Ia melihat ledakan urbanisasi Indonesia lebih mirip dengan Asia Selatan.

"Di Asia Selatan, urbanisasi tidak terencana dan tidak terkontrol. Kekumuhan terjadi dimana-mana," kata Sri Mulyani.

Ia merindukan adanya perecanaan urbanisasi yang mampu membuat perpindahan penduduk dari desa ke kota bisa lebih terorganisir. Namun tantangan tidak hanya persolan penyediaan perumahan di perkotaan.

Dia juga mengungkapkan adanya kemampuan daya beli masyakarat untuk keperluan tempat tinggal yang layak.

Saat ini 40 persen masyakarat mampu membeli rumah dengan penghasilannya sendiri. Kemudian, 40 persen masyarakat bisa membeli rumah dengan tambahan subsidi dari pemerintah.

Adapun sisanya 20 persen masyakarat tidak mampu membeli rumah tanpa ada bantuan menyeluruh dari pemerintah.

Tanpa adanya bantuan penyediaan perumahan dari pemerintah, kota-kota di Indonesia terancam diselimuti kekumuhan.

Sri Mulyani menilai peranan swasta sangat penting dalam penyediaan perumahan yang layak untuk masyakarat di perkotaan.

Di Indonesia, kebutuhan rumah mencapai 820.000 hingga 1 juta per tahun. Sekitar 40 persen kebutuhan perumahan itu bisa dipenuhi oleh pihak swasta, 20 persen oleh pemerintah, dan 40 persen diperoleh secara swadaya masyakarat sendiri.

(Baca: Sri Mulyani Ungkap "Kegilaan" Urbanisasi di Indonesia )



EditorAprillia Ika

Close Ads X