Minat Investor AS Beli Obligasi Syariah RI Meningkat, Kok Bisa?

Kompas.com - 30/03/2017, 18:10 WIB
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan di Gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (23/5/2016) Kompas.com/ Iwan SupriatnaDirektur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan di Gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (23/5/2016)
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menerbitkan obligasi syariah global atau sukuk global sebesar 3 miliar dollar AS. Investor di dalam dan luar negeri pun berlomba-lomba membeli sukuk Indonesia.

Selain investor Islamic (Timur Tengah dan Malaysia), investor asal Amerika Serikat (AS) juga begitu meminati sukuk global Indonesia.

Pada sukuk dengan tenor 5 tahun misalnya, dari jumlah 1 miliar dollar AS, investor AS membeli 21 persen. Sementara itu untuk sukuk dengan tenor 10 tahun, dari 2 miliar dollar AS, investor AS menyerap 29 persennya.

"Ini (minat investor AS ) menarik karena biasanya kurang tertarik dengan sukuk Indonesia," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan Robert Pakpahan di Jakarta, Kamis (30/3/2017).

Sementara itu, tutur Robert, meskipun ketertarikan investor Islamic (Timur Tengah dan Malaysia) masih tinggi, namun justru mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

Investor Islamic mencomot 27 persen untuk sukuk tenor 5 tahun dan 29 persen untuk sukuk tenor 10 tahun. Menurut Robert, penurunan minat investor Islamic terutama negara-negara di Timur Tengah disebabkan turunnya harga minyak dunia.

Akibatnya ketersediaan dana untuk investasi tidak lagi sebesar saat harga minyak dunia tinggi.

Selain itu, jatuhnya harga minyak juga membuat investor dari negara-negara di Timur Tengah menjadi lebih meminati sukuk dengan tenor jangka waktu pendek.

Sementara itu investor AS yang awalnya tidak tertarik justru semakin antusias. Hal itu ucap Robert terlihat saat pemerintah melakukan roadshow ke sejumlah negara. Antusiasme investor AS tidak terlepas dari sukuk global Indonesia yang masuk ke dalam emerging market index pada 2016.

Dengan begitu, para investor global bisa menilai sukuk global Indonesia. Selain itu, konsistensi Indonesia hadir secara rutin dalam pasar sukuk global dan kredit yang cukup bagus juga dinilai mempengaruhi minat investor AS.

"Mereka yakin sukuk juga terpercaya dan kualitasnya tidak kalah dibandingkan yang konvensional," kata Robert.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X