Asosiasi Logistik Enggan Gunakan Data "Dwell Time" dari Pelindo II

Kompas.com - 31/03/2017, 07:30 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat Terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok Container Terminal usai diresmikan Presiden Joko Widodo, di Jakarta, Selasa (13/9/2016). Terminal Kalibaru dibangun untuk meningkatkan kapasitas secara bertahap guna mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas dan kargo Pelabuhan Tanjung Priok. Terminal itu dioperasikan oleh joint venture company antara Pelindo II (IPC) TPK dan Komsosrsium Mitsui-PSA-NYK Line yaitu PT New Priok Container Terminal One (NPCT1), berkapasitas 1,5 juta TEUS per tahun. TRIBUNNEWS / HERUDINSuasana aktivitas bongkar muat Terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok Container Terminal usai diresmikan Presiden Joko Widodo, di Jakarta, Selasa (13/9/2016). Terminal Kalibaru dibangun untuk meningkatkan kapasitas secara bertahap guna mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas dan kargo Pelabuhan Tanjung Priok. Terminal itu dioperasikan oleh joint venture company antara Pelindo II (IPC) TPK dan Komsosrsium Mitsui-PSA-NYK Line yaitu PT New Priok Container Terminal One (NPCT1), berkapasitas 1,5 juta TEUS per tahun.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Asosiasi Logistik Indonesia, Zaldy Ilham Masita menghimbau pemerintah agar tidak menggunakan data waktu tunggu petikemas (dwell time) impor dari PT Pelindo II (Persero).

Menurut Zaldy, PT Pelindo II (Persero) menyatakan dwell time impor sudah 2,7 hari namun kenyataannya masih lebih dari 3,9 hari.

"Seharusnya pakai data yang valid dari Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok sebagai lembaga yang netral," ujar Zaldy dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/3/2017).

Menurut dia, akibat dari kesalahan data tersebut, Pemerintah Joko Widodo kerap salah dalam melihat dwell time sejak awal.

"Jangan lihat hanya dari fisik (petikemas). Bisa jadi petikemasnya sudah keluar dari pelabuhan tapi dokumen impornya belum beres," kata Zaldy.

Menurut dia, dalam hal ini, pemerintah dapat menaruh perhatian dan jangan pelit untuk investasi sistem teknologi informasi di pelabuhan.

Lebih lanjut, Zaldy menyarankan agar dwell time impor ideal untuk jalur hijau dan kuning bisa mencapai satu hari dan jalur merah 1 minggu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akan tetapi, jangan sampai upaya mengurangi dwell time yang dilakukan Pelindo II menjadi langkah pragmatis dan malah menambah ongkos logistik.

"Kalau dwell time dibikin cepat tapi hanya dipindahkan ke depo swasta, ongkosnya malah lebih mahal bagi importir," kata Zaldy.

Bantahan Pelindo II

 

Sementara itu, ketika dikonfirmasi, Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G Masassya mengatakan, bahwa data dwell time saat ini sudah menjadi 2,7 hari.

"Yang menghitung data dweeling time itu otoritas pelabuhan dengan sistem. Dan rata-rata 2016 adalah 2,7 hari," tutur Elvyn kepada Kompas.com.

Dirinya pun meminta untuk melakukan pemeriksaan data dwell time melalui website otoritas pelabuhan setempat. "Silahkan dicek saja di website resmi," pungkas Elvyn.

(Baca: Tekan "Dwell Time", Pelindo II Akan Tetapkan Waktu Inap Kontainer Hanya Satu Hari)

Kompas TV Jokowi Ancam Percepatan Bongkar Muat Kapal



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.