Sri Rahayu, "Baby Sitter" yang Anggap Orangutan Seperti Anak Sendiri

Kompas.com - 02/05/2017, 20:00 WIB
Sri Rahayu, baby sitter orangutan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Foto diambil pada Senin (1/5/2017). KOMPAS.com/KURNIA SARI AZIZASri Rahayu, baby sitter orangutan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Foto diambil pada Senin (1/5/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjadi "baby sitter" atau pengasuh anak bayi sudah hal yang biasa. Tapi kalau jadi baby sitter orangutan, wah gimana ya rasanya?

Sri Rahayu, seorang perempuan berusia 42 tahun yang beruntung karena memiliki kesempatan tersebut.

Ya, Sri adalah seorang baby sitter untuk para orangutan. Sejak tahun 2007, Sri yang sebelumnya merupakan ibu rumah tangga memutuskan untuk bekerja di pusat rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Sepuluh tahun bekerja, Sri sudah merasakan mengasuh orangutan dari yang masih bayi hingga dewasa atau berusia sekitar delapan tahun.

Kemudian apa yang membuat Sri akhirnya memilih menjadi baby sitter orangutan? Padahal sebelumnya ia mengaku sebagai seorang yang penakut terhadap berbagai binatang, termasuk orangutan.

Berikut petikan wawancara Kompas.com dengan Sri, di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, Senin (1/5/2017):

Kompas.com (K): Apa yang membuat Ibu tertarik menjadi baby sitter orangutan?

Sri (S): kebetulan saja tertarik dengan rehabilitasi orangutan di sini, karena memang sebelumnya secara pribadi saya belum mengetahui bentuk dan rupa orangutan tersebut. Merasa tertarik karena ingin tahu orangutan seperti apa sih, sampai akhirnya betah sampai sekarang.

K: Sebelumnya pernah bekerja di kebon binatang, atau ada keahlian khusus?

S: Enggak ada keahlian. Justru saya penakut sama semua binatang. Tapi saya semangati diri saya sendiri, "Ayo kamu bisa.. Kamu bisa ya..".

K: Akhirnya enggak takut?

S: Iya, karena dari dalam hati disemangati seperti itu ya jadi tidak takut.

K: Apa saja kegiatan yang dilakukan selama menjadi baby sitter orangutan?

S: Jadi sekitar pukul 19.30, kami buka kandang mereka dan mengajak berangkat ke sekolah mereka di hutan. Di hutan, kami ajari mereka minum, makan, memanjat hingga pukul 15.00. Mereka dilatih untuk mencari sendiri buahnya secara alami. Setelah kegiatan sekolah selesai, mereka dibawa ke kandang kembali.

K: Kemudian, apa suka dan duka Bu Sri menjadi baby sitter orangutan?

S: Sukanya kalau (orangutan) masih kecil kan enak diurusnya, seperti anak bayi biasa. Kalau pas besarnya, mereka ada tingkat kenakalan sendiri. Kadang-kadang suka usil. He-he-he.

Lalu sedihnya kalau datang orangutan yang penuh luka ke pusat rehabilitasi. Waktu itu pernah, kami kedatangan orangutan (yang dilindungi) dari lokasi perkebunan sawit, pas datang badannya penuh luka bakar. Itu kesedihannya.

K: Hal apa yang paling menyulitkan Bu Sri selama menjadi baby sitter orangutan?

S: Kebetulan untuk menjadi baby sitter orangutan, harus ingat namanya. Karena 1 orangutan punya nama dan ciri tertentu. Nah itu mesti dihapal dan perlu daya ingat tinggi, kesulitannya di situ.

Kemudian ketika mengajak orangutan untuk bersekolah. Jadi kami bawa orangutan dari kandang ke sekolahnya di hutan. Kalau mereka lihat buah sedikit, seperti pisang atau kelapa, mereka jalannya langsung berbelok.

K: Keluarga setuju dengan pekerjaan Bu Sri?

S: Keluarga setuju, karena rumah dengan tempat kerja lokasinya enggak terlalu jauh. Saya kerja dari Senin-Sabtu mulai pukul 07.00-17.00 dan Minggu libur. Alhamdulillah sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan banyak waktu juga untuk kumpul bersama keluarga.

K: Ada enggak, orangutan yang dekat sekali dengan Bu Sri?

S: Ada, tapi dulu. Karena orangutannya sudah mau dilepas ke hutan. Namanya Ciki, Miko, dan Pit, usianya sekitar 7-8 tahun. Mereka sudah saya anggap kayak anak saya sendiri. Mereka tuh lucu, tapi kadang bandel juga.

K: Terakhir nih, Bu. Apa harapan Bu Sri soal orangutan nih, Bu? Karena orangutan itu kan spesies yang dilindungi, tapi banyak dipelihara oleh pihak tak bertanggungjawab.

S: Untuk masyarakat agar bisa bijaksana dalam membuka lahan. Bagi manusia yang memelihara orangutan lebih baik diserahkan ke pihak terkait untuk mengembalikan sifat aslinya.

Jadi banyak dari (orangutan) yang dipelihara manusia itu banyak yang dikasih makan bukan makanan untuk mereka. Mereka juga dididik untuk menjadi seperti manusia, padahal mereka hewan liar.

(Baca: Menengok Sekolah Orangutan di Nyaru Menteng)

Kompas TV Indonesia memiliki banyak kekayaan dan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna. Berbicara mengenai fauna, terdapat jenis-jenis hewan yang dilindungi di indonesia, seperti harimau Sumatera, anoa, bahkan orangutan. Akan tetapi oleh ulah manusia, kini hewan-hewan yang dilindungipun, terancam punah.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemangku Kepentingan Kelapa Sawit Minta Pemerintah Evaluasi Larangan Ekspor CPO

Pemangku Kepentingan Kelapa Sawit Minta Pemerintah Evaluasi Larangan Ekspor CPO

Whats New
India Larang Ekspor Gandum, Ekonom : Bisa Bikin Harga Daging dan Telur Naik

India Larang Ekspor Gandum, Ekonom : Bisa Bikin Harga Daging dan Telur Naik

Whats New
Harga Minyak Goreng Masih Mahal, Simak Minimarket hingga Supermarket yang Gelar Promo

Harga Minyak Goreng Masih Mahal, Simak Minimarket hingga Supermarket yang Gelar Promo

Spend Smart
RI Jadi Magnet Kripto Baru, 15 Negara Rembuk di Bali

RI Jadi Magnet Kripto Baru, 15 Negara Rembuk di Bali

Whats New
Sisa 45 Hari, Harta yang Diungkap dalam PPS Tembus 86,55 Triliun

Sisa 45 Hari, Harta yang Diungkap dalam PPS Tembus 86,55 Triliun

Whats New
Nilai Limit di Bawah Rp 300 Juta, Simak Daftar Lelang Rumah di Bandung

Nilai Limit di Bawah Rp 300 Juta, Simak Daftar Lelang Rumah di Bandung

Whats New
Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, serta Biaya-biaya Lainnya

Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, serta Biaya-biaya Lainnya

Whats New
Penuhi Pasokan Dalam Negeri, India Larang Ekspor Gandum

Penuhi Pasokan Dalam Negeri, India Larang Ekspor Gandum

Whats New
Kilang Balikpapan yang Kebakaran Masih Diperbaiki, Pertamina Pastikan Suplai BBM Tidak Terganggu

Kilang Balikpapan yang Kebakaran Masih Diperbaiki, Pertamina Pastikan Suplai BBM Tidak Terganggu

Whats New
Digugat Rp 322 Miliar gara-gara Tabungan Emas, PT Pegadaian Buka Suara

Digugat Rp 322 Miliar gara-gara Tabungan Emas, PT Pegadaian Buka Suara

Whats New
Pegadaian Digugat Rp 322 Miliar Gara-gara Tabungan Emas

Pegadaian Digugat Rp 322 Miliar Gara-gara Tabungan Emas

Whats New
Cara Membuat Sertifikat Tanah, Beserta Syarat dan Biayanya

Cara Membuat Sertifikat Tanah, Beserta Syarat dan Biayanya

Spend Smart
Long Weekend, KAI Catat 67.000 Penumpang Berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Long Weekend, KAI Catat 67.000 Penumpang Berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Whats New
Cek Besaran Biaya dan Limit Transfer Bank DKI di ATM

Cek Besaran Biaya dan Limit Transfer Bank DKI di ATM

Spend Smart
Awal Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 967.000 per Gram

Awal Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 967.000 per Gram

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.