"Romlah", Bisnis Oleh-oleh Khas Jakarta Omzet Rp 100 Juta Per Bulan

Kompas.com - 08/05/2017, 12:15 WIB
Sugeng Riyadi (34) Founder Romlah Roemah Oleh-oleh Jakarta KOMPAS.com/Kurnia Sari AzizaSugeng Riyadi (34) Founder Romlah Roemah Oleh-oleh Jakarta
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Kalau ke Jogja, kita bisa beli oleh-oleh bakpia. Kalau ke Semarang, kita bisa membelikan lumpia ke teman-teman. Nah, kalau ke Jakarta, kira-kira beli oleh-oleh apa ya buat keluarga di kampung halaman?

Nah, kebingungan ini yang juga dirasakan oleh Sugeng Riyadi (34) dan sang istri. Berawal dari kebingungan itu lah, sekitar tahun 2009, Sugeng dan istri bermimpi untuk berbisnis oleh-oleh khas Jakarta.

Selain berbisnis, mereka juga ingin melestarikan kebudayaan khas Jakarta, khususnya Betawi. Kemudian mereka mencoba mencari tahu apa saja kebudayaan dan makanan khas Betawi.

Setelah mengetahuinya, Sugeng dan istri mencoba mengemas dan memasarkan produk mereka. Pada tahun 2015, Sugeng dan istri membuka toko oleh-oleh khas Jakarta, "Romlah" di rumahnya, di Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

Romlah merupakan singkatan dari Roemah Oleh-oleh Jakarta. Sugeng berperan sebagai founder dan sang istri yang menjadi CEO nya. Modal awal Sugeng dan istri dalam memulai bisnis ini sebesar Rp 5 juta.

"Jadi rumah kami disulap menjadi toko 'Romlah' kecil-kecilan dengan kekhasan Betawi. Mulai dari ornamen dan interiornya, kami usung tema Betawi," kata Sugeng, bercerita kepada Kompas.com, akhir pekan lalu.

Sugeng dan istri tak langsung menemui kesuksesan ketika menjalani bisnis ini. Beberapa andalan "Romlah" seperti biji ketapang, sagon bubuk, dodol Betawi, kembang goyang dijual dengan kisaran harga Rp 10.000-Rp 40.000 per bungkus.

Bulan-bulan pertama memulai bisnis, Sugeng dan istrinya menerima pendapatan sebesar Rp 1 juta. Sugeng menjelaskan, tiga bulan pertama merupakan masa-masa rintangan orang dalam berbisnis.

Apakah mau melanjutkan bisnis tersebut atau tidak. Akhirnya, Sugeng dan istri memutuskan melanjutkan bisnis itu. Meskipun belum balik modal. Sugeng menilai rendahnya omzet yang didapatkan pada bulan-bulan pertama disebabkan karena kurang seringnya pemasaran yang dilakukan.

Kemudian dia mengoptimalkan jaringan-jaringan pemasaran. Seperti melalui website, akun Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan lain-lain. Tiga bulan setelah berdiri pada Februari 2015, "Romlah" juga "melebarkan sayap" ke Tokopedia, Bukalapak, dan Go-Food. Pembelian melalui website romlah.com juga langsung terkoneksi dengan Tokopedia.

Adapun keputusan Sugeng untuk meluaskan jaringan ke online untuk memperluas pasar. Sebab, jika hanya mengandalkan toko offline, maka pasarnya terbataa. Selain itu, modal usaha kecil menengah (UKM) yang dimilikinya belum banyak. Kemudian seberapa besar pengaruhnya?

"Awalnya omzet yang diterima Rp 1 juta, terus naik-naik sampai di bawah Rp 50 juta perbulan. Nah ini pengaruhnya cukup besar, setelah (berjualan) online, (omzet) naik di angka Rp 100 juta per bulan," kata Sugeng.

Sugeng yang masih bekerja sebagai Manager RAM Support di PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) itu mempercayakan istrinya untuk memegang penuh bisnis ini. Dia akan mendukung dari sisi strategi bisnis.

Selain omset yang bertambah, kini "Romlah" juga telah memiliki tiga outlet. Selain di Tanjung Barat, "Romlah" juga dibuka di Harmoni Exchange Mall dan Cilandak Town Square.

Sugeng dan istrinya juga kini memiliki enam karyawan dan puluhan mitra. Pasar utama "Romlah" adalah orang-orang yang datang ke Jakarta dan ibu-ibu.

"Nah sekarang kalau bulan biasa omsetnya dapat di atas Rp 100 juta. Kalau bulan Ramadhan Lebaran, biasanya kami dapat Rp 250-300 juta," kata Sugeng semringah.

Tips dan Trik

Di akhir wawancaranya bersama Kompas.com, Sugeng tak pelit berbagi tips dan trik bagi mereka yang ingin memulai usaha.

Dia mengimbau agar calon pengusaha berani mengambil resiko. Kemudian berani terus melakukan inovasi produk dan cara memasarkan produk. Saat ini, kata dia, pelaku usaha diuntungkan dengan adanya e-commerce.

Mereka tak perlu repot membuat website untuk memasarkan produknya. Namun bisa memasarkan produk mereka di toko online, seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, dan lain-lain.

Ia juga menyarankan calon pengusaha untuk tidak mudah menyerah serta aktif mengetahui kondisi pasar. Kemudian meningkatkan penjualan strategi pemasaran melalui akun Line, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan akun media sosial lainnya.

"Mampu memisahkan kantong bisnis dengan kantong pribadi, jangan sampai uangnya dicampur. Agar tahu bisnis kita menguntungkan apa enggak," kata Sugeng.

Di sisi lain, dia berharap, keberadaan "Romlah" ini dapat mengangkat budaya Betawi dengan kota Jakarta yang metropolitan.

Selain itu, dia berharap, generasi penerus tidak kehilangan sejarah bahwa Jakarta memiliki budaya dan makanan khas yang sangat banyak.

(Baca: Kisah Lulusan SMP yang Sukses Jadi Pengusaha "Dreamcatcher" Berkat Internet)

Kompas TV Kisah Sukses Pasangan Pengusaha Online



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Biaya Listrik Energi Terbarukan Kian Murah, PLN Hentikan Kontrak Proyek PLTU

Biaya Listrik Energi Terbarukan Kian Murah, PLN Hentikan Kontrak Proyek PLTU

Whats New
Jeff Bezos Terancam Bayar Pajak Rp 79,8 Triliun Per Tahun, Kok Bisa?

Jeff Bezos Terancam Bayar Pajak Rp 79,8 Triliun Per Tahun, Kok Bisa?

Whats New
Seleksi CPNS dan PPPK Segera Dibuka, BKN Matangkan Persiapan

Seleksi CPNS dan PPPK Segera Dibuka, BKN Matangkan Persiapan

Whats New
Mau Ekspor Mobil ke Australia, Pemerintah Bakal Lobi Produsen Asal Jepang

Mau Ekspor Mobil ke Australia, Pemerintah Bakal Lobi Produsen Asal Jepang

Whats New
Kini Investor Asing Bisa Cari Harta Karun Bawah Laut di Indonesia

Kini Investor Asing Bisa Cari Harta Karun Bawah Laut di Indonesia

Whats New
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia dan KLHK Beri Pelatihan untuk Petani Hortikultura

Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia dan KLHK Beri Pelatihan untuk Petani Hortikultura

Rilis
[TREN BISNIS KOMPASIANA] Corporate Culture, Berdamai dengan Pandemi | Elegi Toko Buku | Bisnis Jengkol yang Menjanjikan

[TREN BISNIS KOMPASIANA] Corporate Culture, Berdamai dengan Pandemi | Elegi Toko Buku | Bisnis Jengkol yang Menjanjikan

Rilis
Peserta Kartu Prakerja Diminta Segera Tautkan Nomor Rekening dan E-Wallet

Peserta Kartu Prakerja Diminta Segera Tautkan Nomor Rekening dan E-Wallet

Whats New
Cegah Korupsi, 27 BUMN Kerja Sama dengan KPK

Cegah Korupsi, 27 BUMN Kerja Sama dengan KPK

Rilis
Kabar Gembira, BRI Turunkan Suku Bunga Kredit untuk Semua Segmen

Kabar Gembira, BRI Turunkan Suku Bunga Kredit untuk Semua Segmen

Spend Smart
Perpres tentang Investasi Miras Dicabut, Bagaimana Nasib Usaha Eksisting?

Perpres tentang Investasi Miras Dicabut, Bagaimana Nasib Usaha Eksisting?

Whats New
BEI Minta Gojek dkk Segera Listing di Pasar Modal

BEI Minta Gojek dkk Segera Listing di Pasar Modal

Whats New
Tarif Listrik Tenaga Surya Makin Murah, PLTU akan Bersaing dengan Energi Terbarukan

Tarif Listrik Tenaga Surya Makin Murah, PLTU akan Bersaing dengan Energi Terbarukan

Whats New
Soal Salah Transfer Rp 51 Juta Berujung Pidana, Ini Faktanya Versi BCA

Soal Salah Transfer Rp 51 Juta Berujung Pidana, Ini Faktanya Versi BCA

Whats New
BKPM: Izin Pembangunan Industri Miras Sudah Ada sejak 1931

BKPM: Izin Pembangunan Industri Miras Sudah Ada sejak 1931

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X