Ada Peringkat "Investment Grade," Sri Mulyani Ingin Investasi Naik

Kompas.com - 20/05/2017, 12:30 WIB
Sri Mulyani, dalam konfrensi pers, di Kantor BPPK, Kementerian Keuangan, Jakarta Senin (17/4/2017). KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTOSri Mulyani, dalam konfrensi pers, di Kantor BPPK, Kementerian Keuangan, Jakarta Senin (17/4/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia baru saja memperoleh predikat investment grade alias layak investasi atau investment grade dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P). Predikat Indonesia pun naik menjadi BBB-/stable outlook per 19 Mei 2017.

Predikat layak investasi membuat Indonesia memiliki akses yang lebih besar kepada basis investor. Oleh karena itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, predikat layak investasi ini akan mendorong besarnya minat investasi ke Indonesia.

"Rating yang bagus bisa berdampak positif," kata Sri Mulyani di Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Disematkannya predikat investment grade kepada Indonesia diyakini Sri Mulyani bisa memberikan keyakinan positif bagi para investor dan pemilik modal untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

"Tentu memberi keyakinan yang positif, sehingga perusahaan-perusahaan memiliki keputusan untuk meningkatkan investasi di Indonesia," jelas Sri Mulyani.

Ia menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,1 persen pada tahun 2017. Adapun untuk tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan bisa meningkat ke kisaran 5,4 hingga 6,1 persen.

Agar target tersebut bisa tercapai, Sri MUlyani menyatakan dibutuhkan investasi baik dari dalam maupun luar negeri. Meskipun demikian, Sri Mulyani tak menargetkan jumlah target investasi yang ingin diraih pemerintah.

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam memikat para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia antara lain dengan meningkatkan kemudahan berusaha atau ease of doing business (EoDB). Dengan investasi yang bermunculan di Indonesia, maka kesempatan kerja juga akan meningkat.

Kompas TV Membaiknya iklim investasi di tanah air mulai banyak menarik perhatian investor asing. Hal ini sejalan dengan perbaikan rating yang diberikan beberapa lembaga, seperti Moody's. Sementara itu, di sisi konsumsi, belanja masyarakat pun terbukti andal ditengah kelesuan ekonomi. Dengan kondisi ini, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi tahun ini juga bakal melebihi target. Apalagi, sejumlah komoditas andalan Indonesia telah membaik harganya sejalan kenaikan harga minyak dunia. Meski begitu, pemerintah tetap mewaspadai fluktuasi ekonomi dunia. Ini terkait berbagai kebijakan presiden terpilih Amerika Serikat dan juga kondisi ekonomi regional khususnya Tiongkok dan Jepang. Sementara itu, para ekonom juga mengingatkan tantangan dari dalam negeri, khususnya soal penerimaan pajak serta inflasi. Masih liarnya harga sejumlah kebutuhan akan diperparah dengan kebijakan harga terkait pencabutan subsidi tarif listrik. Tentunya target tersebut bisa terlampaui. Sehingga pertumbuhan ekonomi di tahun ini bisa melebihi realisasi tahun lalu dan tentunya bisa lebih dirasakan semua kalangan.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X