Indonesia Dapat Rating Investment Grade, BKPM Kini Merasa Gagah

Kompas.com - 01/06/2017, 12:00 WIB
KOMPAS.com/Kurnia Sari Aziza Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong seusai menandatangani nota kesepahaman tentang promosi investasi bersama Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia Rino Donosepoetro, di kantor BKPM, Jakarta Selatan, Rabu (31/5/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) semakin percaya diri setelah Indonesia mendapat rating "investment grade" alias layak investasi dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P).

Kepala BKPM Thomas Lembong menjelaskan, predikat layak investasi ini akan membuat Indonesia memiliki akses yang lebih besar kepada basis investor.

"Tentunya sekarang, kami BKPM keliling dunia, jualan jadi lebih gagah. Ini pertama kali (mendapat layak investasi) setelah 20 tahun," kata Thomas, kepada wartawan, di kantor BKPM, Jakarta Selatan, Rabu (31/5/2017).

Hal ini, kata dia, memberikan angin segar bagi pemerintah, khususnya BKPM untuk menarik investor berinvestasi di Indonesia. Selama ini, kata dia, masih banyak investor yang ragu-ragu berinvestasi di Indonesia.

"Semoga kenaikan peringkat ini membantu mendorong dia (investor) untuk cebur (investasi di Indonesia)," kata Thomas.

Selain itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo juga mengingatkan pihak terkait tak lupa mengajak investor dari negara-negara "non tradisional".

Seperti Timur Tengah, Afrika, India, Rusia, dan lain-lain. Dia mencontohkan, Timur Tengah berpotensi investasi di proyek-proyek yang sudah berjalan dan omsetnya sudah stabil. Contohnya seperti proyek pariwisata, bandara, pelabuhan, dan lain-lain.

Kemudian Rusia berpotensi investasi di bidang kilang minyak dan pariwisata. Menurut dia, banyak wisatawan asal Rusia yang senang mengunjungi Bali.

"Masih banyak sekali potensi investasi dari Timur Tengah dan Rusia yang dulu enggak pernah digarap, padahal mereka punya jumlah modal yang sangat besar. Jadi mereka tergolong capital rich yang punya basis modal sangat besar, tapi belum pernah digarap secara sistematis," kata Thomas.

(Baca: BKPM Fokus Gaet Investor Asal Timur Tengah, India, Rusia, dan Afrika)

Kompas TV 2,4 Miliar Dollar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 32 Triliun adalah kesepakatan kerja sama investasi yang digiring Kamar Dagang dan Industri Indonesia dengan para pengusaha asal saudi arabia. Kesepakatan kerja sama ini tersebar melalui beberapa sektor. Terutama properti di Arab dan wisata religius seperti umrah dan haji. Dari kesepakatan yang dicapai oleh Kadin kedua negara, tidak ada satu pun yang merambah sektor energi. Realisasi investasi ini bahkan tidak akan dilakukan dalam waktu dekat, melainkan paling cepat satu tahun mendatang. Dalam catatan BKPM, Arab Saudi bukanlah investor terbesar untuk Indonesia, bahkan posisinya buncit di rangking 57. Kadin menjelaskan, hal ini karena kurangnya komunikasi antar dua negara setelah komitmen dibuat.

 



EditorAprillia Ika


Close Ads X