Luhut Ajak ASEAN Tanggulangi Masalah Sampah Plastik di Laut

Kompas.com - 06/06/2017, 12:00 WIB
Sampah plastik di lautan. Ilmuwan menyatakan bahwa 99 persen plastik m ikroskopik di lautan hilang, kemungkinan dimakan hewan. National GeographicSampah plastik di lautan. Ilmuwan menyatakan bahwa 99 persen plastik m ikroskopik di lautan hilang, kemungkinan dimakan hewan.
Penulis Moh. Nadlir
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengajak seluruh negara di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN untuk bekerja sama menanggulangi masalah sampah plastik di laut secara bersama-sama.

Menurut Luhut, kerugian yang ditimbulkan akibat sampah plastik laut tersebut telah mencapai 1,2 miliar dollar AS, dan meliputi berbagai bidang seperti perikanan, perkapalan, pariwisata dan bisnis asuransi.

"Ini bisa berujung kepada malapetaka jika kita tidak segera bergerak karena pengangguran bisa menimbulkan masalah kemiskinan dan sosial dan akan berujung pada radikalisme dan terorisme,” ujar Luhut dalam keterangannya, Selasa (6/6/2017).

Luhut menegaskan, masalah pencemaran laut adalah tantangan lintas batas negara yang harus ditangani secara efektif demi mencapai pembangunan laut yang berkelanjutan. Terlebih, kata Luhut, tak sedikit dari negara-negara ASEAN merupakan eksportir utama produk makanan laut dan juga kelautan.

Menurut dia, secara strategis, kerja sama kelautan untuk menyelesaikan masalah plastik laut dapat menjadi pondasi yang kuat untuk memperkuat kerja sama kelautan yang ada.

"Ini untuk juga menjembatani perbedaan pandangan negara-negara tersebut tentang pengelolaan limbah, seperti pelaksanaan Proyek Limbah ke Energi dan kerja sama di bidang pengelolaan limbah seperti investasi,” tambah Luhut.

Pengelolaan limbah ke energi tersebut, menurut Luhut bisa menjadi pendorong ekonomi baru dan merangsang keterlibatan sektor swasta yang secara langsung menguntungkan masyarakat.

"Intinya, negara dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengurangi eksternalitas negatif terhadap lingkungan, sehingga menyajikan contoh konkret pembangunan berkelanjutan," kata dia.

Luhut mengatakan, ASEAN harus memiliki pandangan yang sama dalam masalah ini. Di Indonesia sendiri kata Luhut, Pemerintah telah menjalin kerjasama dengan Bank Dunia dan Pemerintah Denmark untuk mengadakan penelitian di 15 lokasi di seluruh Tanah Air.

Pemerintah juga mengadakan kerja sama dengan Amerika Serikat untuk meneliti ikan yang mengkonsumsi plastik di laut.

Luhut juga mengatakan, pihaknya secara nyata juga telah membuat analisa dan membuat beberapa rencana aksi untuk mengatasi persoalan sampah plastik di laut.

"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sampah plastik juga banyak dibuang dari kapal-kapal di perairan. Sampah plastik di dunia ini ternyata dua pertiganya datang dari perairan Asia Selatan," kata Luhut.

(Baca: Luhut: Sampah Musuh Bersama, Tak Ada Urusan dengan Agama dan Suku)

Kompas TV Berdamai dengan Sampah Plastik



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gaji Rp 5 Juta, Sebaiknya Ngontrak atau Cicil Rumah?

Gaji Rp 5 Juta, Sebaiknya Ngontrak atau Cicil Rumah?

Spend Smart
Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Whats New
Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Whats New
Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Whats New
Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

Rilis
Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Whats New
Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Whats New
779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

Whats New
7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

Whats New
Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Whats New
Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Rilis
KKP Bantu Permodalan Pembudi Daya Rumput Laut di Sulsel

KKP Bantu Permodalan Pembudi Daya Rumput Laut di Sulsel

Whats New
Kemenkeu Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Penyediaan Satu Juta Rumah

Kemenkeu Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Penyediaan Satu Juta Rumah

Whats New
Pulihkan Ekonomi, Mendag Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Malaysia-Thailand

Pulihkan Ekonomi, Mendag Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Malaysia-Thailand

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X