Pengambilalihan Ruang udara RI di Blok ABC Perlu Proses Panjang

Kompas.com - 16/06/2017, 15:10 WIB
Suasana di dalam Operation Room Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) Airnav Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (5/7/2016). Pekerja di ruangan ini tetap bekerja saat Lebaran. KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERASuasana di dalam Operation Room Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) Airnav Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (5/7/2016). Pekerja di ruangan ini tetap bekerja saat Lebaran.
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia saat ini dalam upaya mempercepat pengambilalihan flight Information Region (FIR) atau ruang udara RI di Blok ABC dari Singapura dan Malaysia.

Blok ABC adalah ruang udara RI dari Batam hingga Natuna, yang dikelola oleh Singapura dan Malaysia sejak 1946. Percepatan pengambilalihan ini diperkirakan rampung pada 2019 dan AirNav Indonesia akan mengelola penerbangan di Blok ABC yang ketinggiannya di bawah 20.000 kaki.

(Baca: AirNav Percepat Pengambilalihan Ruang Udara RI yang Dikelola Singapura dan Malaysia)

Ketua Masyarakat Hukum Udara Andre Rahadian mengatakan bahwa diperlukan kerja sama seluruh stakeholders penerbangan di Indonesia untuk mencapai tujuan pengambilalihan ruang wilayah udara tersebut.

Hal itu disampaikan Andre di sela Seminar Tentang Perubahan Batas Flight Information Region dengan tajuk "Apa Yang Harus Disiapkan Indonesia" yang berlangsung Jakarta, Kamis (15/6/2017).

Andre menjelaskan bahwa ada tahapan dan proses yang harus dipenuhi untuk melakukan pengambilalihan tersebut, seperti masalah peralatan, kesiapan sumber daya manusia, dan berbagai faktor pendukung yang lain.

Hal itu mengingat pengelolaan Flight Information Region menyangkut hal yang fundamental, yaitu keselamatan penerbangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, wilayah ruang udara RI di Blok ABC adalah wilayah yang sangat padat dengan penerbangan komersil. Realisasinya akan membawa dampak yang cukup besar dalam kegiatan penerbangan Indonesia dan aspek ekonomi maupun politik pada umumnya.

(Baca: Ruang Udara Batam hingga Natuna Dikuasai Singapura dan Malaysia, Kapan Kembali ke RI?)

Menurut Andre, penerapan batas atas wilayah ruang udara dititikberatkan pada pertimbangan serta kepentingan teknis dan operasional pelayanan navigasi penerbangan untuk menjamin keselamatan dan efisiensi penerbangan.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.