BI Pantau Faktor-faktor Penyebab Pergerakan Rupiah

Kompas.com - 11/07/2017, 13:47 WIB
Tampilan uang NKRI baru di Gedung Bank Indonesia, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia meluncurkan uang NKRI baru dengan menampilkan 12 pahlawan nasional, Adapun uang desain baru yang diluncurkan hari ini mencakup tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGTampilan uang NKRI baru di Gedung Bank Indonesia, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia meluncurkan uang NKRI baru dengan menampilkan 12 pahlawan nasional, Adapun uang desain baru yang diluncurkan hari ini mencakup tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mewaspadai faktor-faktor pemicu inflasi indeks harga konsumen (IHK).

Bank sentral sendiri menargetkan inflasi pada tahun 2017 ini berada pada kisaran 4 plus minus 1 persen.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyatakan, dari sisi internal, bank sentral terus mewaspadai pengumuman-pengumuman pemerintah terkait rencana kenaikan tarif listrik yang saat ini diputuskan tidak jadi.

Selain itu, harga minyak pun lebih rendah sehingga tidak perlu dilakukan penyesuaian subsidi.

"Tapi kalau inflasi sudah terkendali, yang sangat kita waspadai adalah perkembangan di luar negeri," kata Agus di Jakarta, Senin (10/7/2017).

Beberapa aspek eksternal yang dipantau bank sentral antara lain pernyataan bank sentral AS Federal Reserve dalam laporan minutes yang cenderung hawkish.

Selain itu, kondisi non-farm payroll di AS juga lebih baik dan ada kemungkinan suku bunga AS Fed Fund Rate (FFR) akan kembali naik.

Pun The Fed juga menyatakan bakal menurunkan balance sheet atau neracanya semakin tajam. Semua kondisi tersebut berpengaruh terhadap kondisi nilai tukar banyak negara di dunia, termasuk rupiah.

"Mata uang dunia melemah terhadap dollar AS, dollar AS menguat," jelas Agus.

Ia menuturkan, kondisi tersebut pula membuat negara-negara yang selama ini menikmati arus modal masuk (capital inflow) mulai mengalami tekanan arus dana keluar (capital outflow).

Pun kondisi ini membuat nilai tukar bisa melemah. Agus menuturkan, rata-rata nilai tukar rupiah sejak Januari hingga Juli 2017 berada pada kisaran Rp 13.300 per dollar AS.

Oleh sebab itu, asumsi nilai tukar rupiah pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) sebesar Rp 13.400 per dollar AS cukup realistis.

"Yang diperhatikan bukan hanya faktor inflasi, tapi juga capital inflow dan outflow," tutur Agus.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X