Aksi "No One Left Behind" Koperasi

Kompas.com - 13/07/2017, 16:08 WIB
Situasi pasar murah yang digelar oleh Koperasi Setia Budi Wanita, Kota Malang, pada 2013. Ribuan koperasi wanita saat ini menjamur di Jawa Timur. Keberadaan koperasi diharapkan mampu meningkatkan kemandirian kaum perempuan, terutama di bidang ekonomi. KOMPAS/DAHLIA IRAWATISituasi pasar murah yang digelar oleh Koperasi Setia Budi Wanita, Kota Malang, pada 2013. Ribuan koperasi wanita saat ini menjamur di Jawa Timur. Keberadaan koperasi diharapkan mampu meningkatkan kemandirian kaum perempuan, terutama di bidang ekonomi.
EditorLaksono Hari Wiwoho

Dengan menjangkarkannya pada misi pelayanan bagi kelompok marginal membuat CU terbuka bagi semua orang, lebih-lebih pada kelompok yang left behind.

Model kelembagaan ini yang boleh jadi berbeda dengan koperasi-koperasi lain yang cenderung beroperasi di kelompok tertentu saja. Hasilnya alih-alih mewujudkan pemerataan, koperasi semacam itu justru menjadi modus konsentrasi kekayaan segelintir atau kelompok orang.

Maklumat ICA agar koperasi memastikan kelompok-kelompok marginal terlayani dengan baik bisa menjadi jangkar spiritualitas baru di tengah kondisi sosio-ekonomi yang penuh turbulensi.

Maklumat itu semacam pengingat (reminding) dan memanggil ulang (recalling), agar koperasi kembali pada jati dirinya. Wujud konkretnya adalah bertambahnya statistik anggota koperasi khususnya dari kelompok marginal. Itulah sejatinya kinerja sosial koperasi sebagai sebuah perusahaan kolektif.

Aksi no one left behind

Bertemu di tapal batas no one left behind, seluruh koperasi harus melakukan aksi yang sama. Koperasi-koperasi mapan, seperti KSP, KPRI, Kopkar dan lainnya, perlu merestrukturisasi kelembagaannya agar terbuka bagi semua orang.

Masih banyak orang yang belum menerima layanan koperasi yang mana hal itu bisa dibaca sebagai perluasan "segmen pasar" baru. Di sisi lain, bisa dibaca sebagai upaya mempertinggi kinerja sosialnya.

Hasilnya, koperasi-koperasi itu akan memperoleh skala dari sisi permintaan dan penawaran. Demikian pula dari sisi sosial dan ekonomi.

Tentu saja, anggota-anggotanya perlu dididik dan disadarkan tentang misi sosial koperasi yang par excellence. Sehingga, penambahan anggota tidak dibaca secara negatif sebagai bertambahnya angka pembagi kue sisa hasil usaha, tetapi sebaliknya.

Dalam tahun-tahun mendatang, spirit itu harusnya bisa membuat statistik anggota koperasi meningkat. Sekat dan kepentingan sempit kelompokisme bisa berkurang dan secara umum koperasi menampilkan dirinya sebagai organisasi ekonomi sosial yang humanis. Tentu tidak mudah, namun bisa diupayakan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X