Kembangkan Sapi Asal Belgia, Solusi Defisit Daging Sapi Nasional?

Kompas.com - 13/07/2017, 18:00 WIB
Pasca lebaran, harga daging sapi segar Rp 120.000 per kilogram di Jakarta, Kamis (29/6/2017). KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTOPasca lebaran, harga daging sapi segar Rp 120.000 per kilogram di Jakarta, Kamis (29/6/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Terjadinya defisit daging sapi di Indonesia masih menjadi masalah yang belum mampu diurai oleh pemerintah.

Produksi daging sapi nasional tak mampu memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri, tercatat untuk tahun ini saja prognosa produksi daging sapi dalam negeri sebesar 354.770 ton, sedangkan perkiraan kebutuhan daging sapi mencapai 604.968 ton.

Dengan itu, sebanyak 39-40 persen kebutuhan daging sapi dalam negeri dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk impor sapi bakalan maupun daging.

Belakangan, Kementerian Pertanian tengah melakukan pengembangan uji coba sapi bobot besar yang dinamakan Gatot Kaca.

Sapi jenis tersebut merupakan sapi persilangan sapi asal Belgia yakni Belgian Blue Cattle dengan sapi Frisian Holstein (FH) dan sapi Simmental.

I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan, jenis sapi yang tengah dikembangkan tersebut memiliki kelebihan yakni bobot hidupnya bisa mencapai 1,2 ton dalam kurun waktu 2 tahun, sedangkan sapi biasa atau jenis limousin dan simmental hanya 800 kilogram.

"Sapi Belgian Blue mempunyai persentasi karkas (daging) yang lebih tinggi. Belgian Blue ini bisa merupakan solusi untuk mengatasi defisit daging yang saat ini terjadi," ungkap Ketut saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (13/7/2017).

Ketut menjelaskan, dalam mengembangkan sapi tersebut pihaknya telah menganggarkan Rp 20 miliar untuk tahun 2017, dan Rp 50 miliar di tahun 2018.

Menurutnya, pengembangan sapi tersebut dilakukan dengan teknik inseminasi buatan yang telah dilakukan di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor.

"Saat ini Belgian Blue hasil transfer mmbrio baru ada di Balai Embrio Ternak Cipelang," jelas Ketut. Sedangkan target pengembangan ini, diharapkan akan menghasilkan kelahiran 500 ekor hingga tahun 2019 mendatang.

"Hasil kelahiran ini kita manfaatkan untuk menghasilkan embrio dan pejantan unggul penghasil semen beku. Diharapkan ke depan kita tidak perlu lagi mengimport embrio dan semen beku," papar Ketut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X