Keperkasaan Dolar AS, Momentum untuk Bangkit Bersama

Kompas.com - 08/07/2018, 15:07 WIB
Petugas menunjukan pecahan dollar Amerika di salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta, Jumat (29/6/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Jumat (29/6/2018) siang berada pada level Rp 14.360. MAULANA MAHARDHIKAPetugas menunjukan pecahan dollar Amerika di salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta, Jumat (29/6/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Jumat (29/6/2018) siang berada pada level Rp 14.360.

ADA gula ada semut. Peribahasa tersebut sangat cocok dengan penyebab terjadinya kondisi ekonomi global saat ini.

Uang bergerak mengikuti ke sumber yang lebih menguntungkan. Amerika Serikat (AS) adalah negara yang menjadi magnet bagi para pemilik uang untuk menginvestasikan dananya.

Setelah pulih dari krisis pada 2009, secara berangsur Bank Sentral Amerika mulai menaikkan suku bunganya.

Tidak hanya itu,Presiden Trump juga menurunkan tarif pajaknya dari 35 persen menjadi 21 persen. Ditambah lagi dengan investasi di AS juga memberikan imbal hasil atau yield yang meningkat karena yield obligasi AS dengan tenor 10 tahun menembus 3 persen dan diprediksi dapat mencapai 4 persen tahun 2019.

Hal ini semakin menarik banyak investor untuk memindahkan dananya ke Amerika.

Ditambah dengan situasi yang tidak menentu dari perang dagang dan geopolitik kawasan yang menyebabkan naiknya harga minyak dunia, semakin banyak pemilik modal yang melarikan kembali dananya ke Amerika.

Sebagai dampaknya, banyak terjadi pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS di beberapa negara. Pelemahan ini nilainya berbeda-beda yang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kesehatan fiskal dan stabilisasi moneter.

Bagaimana dengan Indonesia?

Secara umum kondisi fiskal Indonesia dalam keadaan sehat, sebagaimana tercermin dalam pengelolaan APBN sampai dengan bulan Juni ini. Defisit anggaran semakin kecil bila dibandingkan tahun lalu sehingga keseimbangan primer diperkirakan akan bertahan surplus sebagaimana pada bulan Mei yang surplus 18,1 triliun.

Turunnya defisit anggaran ini juga menyebabkan turunnya pembiayaan melalui utang tanpa harus memotong uang belanja negara.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X