Tarif Kargo Mahal, Asosiasi Logistik Berupaya Sewa Pesawat Sendiri

Kompas.com - 06/02/2019, 17:08 WIB
Ilustrasi logistik dengan teknologi digitalTHINKSTOCK/ake1150sb Ilustrasi logistik dengan teknologi digital

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pengusaha Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logisik Indonesia (Asperindo) mengeluhkan mahalnya tarif kargo maskapai.

Bahkan, salah satu maskapai yang menjadi tolak ukur harga kargo yang kerap digunakan oleh pengusaha logistik, Garuda Indonesia, telah menaikkan tarif kargo sebanyak enam kali terhitung sejak Juni 2018 dengan total kenaikan tarif mencapai 300 persen.

Akibat kenaikan drastis tersebut, asosiasi pun memutuskan untuk menyewa pesawat demi mengakomodir kebutuhan anggotanya. Harapannya, ongkos yang harus dikeluarkan oleh perusahaan anggota asosiasi bisa lebih murah jika menggunakan pesawat sewaan ini.

Baca juga: Asperindo: Wajar Enggak Menaikkan Tarif hingga 300 persen?

"Asperindo sedang mengupayakan untuk melakukan charter flight, bahkan memiliki operator sendiri. Dengan harapan ini nanti bisa diutilisasi dengan anggota kami. Nanti kita akan lihat bahwa dengan menggunakan charter flight mudah-mudahan harganya jauh lebih bisa diterima anggota Asperindo," ujar Ketua Umum Asperindo Mohammad Feriadi di Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Tak hanya soal besarnya nilai kenaikan tarif kargo, pengusaha pun mengeluhkan pemberitahuan kenaikan tarif kargo maskapai yang cenderung mendadak. Feriadi mengatakan, hal tersebut merugikan perusahaan lantaran banyak pelanggan jasa logistik korporasi yang menggunakan sistem kontrak.

"Kalau saya bicara costumer basisnya contract corporate, pada saat kenaikan umumnya di dalam kontrak tersebut harus ada pemberitahuan. Sementara ini pemberitahuannya sangat singkat. Hari ini diberitahukan naik, tahu-tahu besok berlaku," jelas Feriadi.

Baca juga: Pengusaha Logistik Keluhkan Mahalnya Tarif Tol Trans Jawa dan Kargo Pesawat

Feriadi pun mengatakan, dampak kenaikan tarif kargo pesawat tak hanya dirasakan oleh pengusaha logistik saja, akan tetapi juga pengusahan UMKM yang menjajakan barangnya via e-commerce atau sosial media.

"Dan dari manapun atau ke mana pun mereka jual produk-produk ini kan harus dikirim. Nah biaya kirimnya ini jadi beban," tukas Feriadi.




Close Ads X