KILAS

Genjot Lahan Rawa, Kementan Tetap Cetak Sawah Baru

Kompas.com - 08/03/2019, 08:57 WIB
Kegiatan cetak sawah Kementan melalui Direktorat Jenderal Sarana dan Prasana Pertanian terbagi dua. Pertama cetak sawah yang sebenarnya atau dalam arti mengubah lahan tidur menjadi sawah serta optimalisasi lahan. Dok Kementerian PertanianKegiatan cetak sawah Kementan melalui Direktorat Jenderal Sarana dan Prasana Pertanian terbagi dua. Pertama cetak sawah yang sebenarnya atau dalam arti mengubah lahan tidur menjadi sawah serta optimalisasi lahan.
Editor Latief

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan kegiatan cetak sawah baru selain gencar mengoptimasi lahan rawa. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan nawacita Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan persiapan menuju lumbung pangan dunia 2045.

Seperti diketahui, hingga pemerintahan Jokowi- JK berakhir, pemerintah menargetkan cetak sawah hingga 1 juta hektar. Saat ini terhitung sudah terwujud, bahkan berlebih menjadi 1,16 juta hektar.

Jumlah itu terbagi atas 900 ribu hektar dari optimalisasi lahan. Sementara itu, lebih dari 211 ribu hektar didapat dari cetak lahan baru.

Kegiatan cetak sawah Kementan melalui Direktorat Jenderal Sarana dan Prasana Pertanian terbagi dua. Pertama cetak sawah yang sebenarnya atau dalam arti mengubah lahan tidur menjadi sawah serta optimalisasi lahan.

"Saat ini perluasan areal luas lahan sudah mencapai 900 ribu hektar. Kita memang lebih banyak buka lahan rawa. Perluasan areal sawah yang 1 juta hektar tersebut, 90 persennya berasal dari optimasi rawa. Untuk saat ini kegiatan cetak sawah sudah hampir 200 ribu hektar. Jadi, terhitung sudah lebih dari 1 juta hektar," terang Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Indah Megahwati, Kamis (7/3/2019).

Indah mengatakan optimalisasi lahan adalah menambah areal luas tanam melalui optimalisasi lahan tidak produktif. Cetak sawah baru dilakukan bekerjasama dengan TNI di lahan-lahan tidur di luar Jawa, antara lain Lampung, Sumatera Selatan (Sumsel), Pulau Kalimatan, dan Papua.

"Meskipun alih fungsi lahan terus berlanjut dan pertumbuhan penduduk sejak pemerintahan Jokowi-JK mencapai 12,8 juta jiwa dibandingkan 2014 lalu, capaian produksi pertanian saat ini justeru meningkat," papar Indah.

Tambahan konsumsi sebesar 1,7 juta ton juga dapat terpenuhi dari produksi dalam negeri. Ini dapat dicapai salah satunya berkat pertambahan luas tanam melalui optimalisasi lahan dan cetak sawah baru.

Cetak sawah baru dilakukan bekerjasama dengan TNI di lahan-lahan tidur di luar Jawa, antara lain Lampung, Sumatera Selatan (Sumsel), Pulau Kalimatan, dan Papua.Dok Kementerian Pertanian Cetak sawah baru dilakukan bekerjasama dengan TNI di lahan-lahan tidur di luar Jawa, antara lain Lampung, Sumatera Selatan (Sumsel), Pulau Kalimatan, dan Papua.
Indah mencatat perluasan dan optimasi lahan pada 2018 mencapai 1,16 juta hektar. Angka tersebut naik 358 persen dibandingkan pada 2013 lalu.

"Karena itu, kegiatan ini akan terus berlanjut mengingat manfaatnya untuk kedaulatan pangan di Nusantara," kata Indah.

Adapun pelaksanaan kegiatan cetak sawah di Kementan pada 2015-2018 serta prakiraan kontribusi untuk penambahan produksi padi mencapai hampir 211 ribu hektar lebih. Catatan terbaiknya, kontribusi padi nasional mencapai sekitar 1,263 ton. Ini terjadi lantaran setiap sawah baru yang telah siap tanam langsung dimanfaatkan oleh petani.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X