Membaca Perubahan Lifestyle Agar Usaha Tetap Bertahan...

Kompas.com - 12/03/2019, 20:47 WIB
Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita dalam paparan kinerja dan outlook capaian 2019 di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019).KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita dalam paparan kinerja dan outlook capaian 2019 di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah toko ritel offline harus rela tutup. Hal ini lantaran terhempasan penetrasi belanja online atau e-commerce yang pesat saat ini.

Para pelaku usaha offline disarankan untuk membaca perubahan lifestyle masyarakat Indonesia saat ini agar tetap bisa bertahan.

"Itu tidak bisa dihindari karena sekarang lifestyle berubah masuk atau mencari yang lebih sederhana dengan online," ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

"Jadi kolaborasi dan sinergi antara offline dan online akan meningkatkan penjualan," sambung dia.

Ia mencontohkan perubahan lifestyle masyarakat Indonesia di bidang makanan yang kini lebih memilih membeli makanan melalui layanan dari Go-Jek, Go-Food.

Mendag bahkan menyebut, omzet pesanan Go-Food bisa mencapai Rp 1,5 triliun dalam bulan-bulan tertentu.

Selain itu kata dia, masyarakat Indonesia juga kini gemar berfoto selfie. Hal ini harusnya dilihat oleh para pelaku usaha kuliner dengan mengubah desain restoran menjadi lebih menarik.

"Anak muda ini foto-foto di sini. Makanan nomor dua, tetapi lingkungan itu jadi nomor satu.Lifestyle hangouts sangat tinggi," kata dia.

"Di sisi lain ngopi itu jadi lifestyle, kita mensyukuri itu. Kalau saja di China dari minum teh sebagain jadi minum kopi, maka ekspor kopi kita akan besar. Kami aktif mempromosikan minum kopi sebagai lifestyle," sambungnya.




Close Ads X