Diskriminasi CPO, Uni Eropa Disebut Sedang Berupaya Usik Ekspor RI

Kompas.com - 25/03/2019, 16:00 WIB
Warga mengambil hasil kebun berupa buah kelapa sawit di kawasan Alue Gro, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Sabtu (23/1/2016).KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Warga mengambil hasil kebun berupa buah kelapa sawit di kawasan Alue Gro, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Sabtu (23/1/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Staf Khusus Menteri Luar Negeri bidang Percepatan Program Prioritas Peter Frans Gontha mempertanyakan diskriminasi Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit mentah atau CPO.

Peter justru menduga upaya tersebut sebagai upaya Uni Eropa untuk mengusik ekspor Indonesia ke negara-negara di Benua Biru tersebut.

"Ekspor kita dengan Uni Eropa kira-kira sekarang 17,1 miliar dollar AS. Sementara, impor kita dari EU 14,1 miliar dollar AS," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (25/3/2019).

Baca juga: Lawan Diskriminasi CPO, Pemerintah Ajak Pebisnis Gugat Uni Eropa

"Pertanyaan kita sekarang adalah, dengan mereka mau banned kelapa sawit kita, apakah mereka mencoba untuk menurunkan balance of payment sehingga berubah?" sambung mantan Duta Besar RI untuk Polandia tersebut.

Peter mengatakan, Indonesia harus bersatu menentang Delegated Act yang melarang CPO digunakan untuk biodiesel. Rencananya Delegated Act akan dibawa ke Parlemen Uni Eropa dalam waktu dekat untuk disahkan atau ditolak.

Pemerintah sudah mengancam akan membawa persoalan diskriminasi CPO ke WTO andai Uni Eropa memutuskan untuk mengadopsi ketentuan tersebut.

Baca juga: CPO Didiskriminasi, Pemerintah Galang Dukungan DPR dan NGO

Peter juga tak habis pikir alasan Uni Eropa yang mengaitkan CPO dengan deforesrasi. Ia justru balik menyentil Uni Eropa yang lebih dulu melakukan deforestasi sejak ratusan tahun lalu.

"Mereka terutama 1785 sampai 1885 telah melaksanakan total deforestasi. Sehingga di Eropa itu tidak ada biodiversity lagi," kata dia.




Close Ads X