Risiko Resesi Ekonomi AS Justru Bisa Jadi Peluang Indonesia, Mengapa?

Kompas.com - 27/03/2019, 14:35 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara di Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018) KOMPAS.com/Putri Syifa NurfadilahDeputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara di Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Perekonomian Amerika Serikat diberitakan berada diambang resesi imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS 10-tahun merosot lebih jauh dibandingkan dengan rata-rata suku bunga 3 bulan di Asia pada senin (25/3/2019) lalu.

Seperti dikutip dari Strait Times, Rabu (27/3/2019), di masa lalu kondisi tersebut mengisyaratkan risiko resesi ekonomi di Amerika Serikat.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan, jika perekonomian AS benar-benar mengalami perlambatan tahun ini, seharusnya bisa menjadi salah satu celah bagi Indonesia untuk menambal defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang tahun ini diharapkan bisa turun menjadi di kisaran 2,5 persen atau bahkan 2 persen dari PDB.

Baca juga: Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020?

"Perlambatan ekonomi AS membuat suku bunga AS tidak naik lagi, itu membantu Indonesia dalam hal pembiayaan CAD, jadi portofolio akan masuk ke Indonesia dan negara-negara emerging market lain," ujar Mirza di Jakarta, Rabu.

Menurut Mirza, sebenarnya perlambatan perekonomian China jauh lebih memberikan dampak terhadap kondisi perekonomian dalam negeri. Sebab, sebagai salah satu ekonomi besar dunia, China merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia.

Dengan 25 persen dari porsi ekspornya berupa komoditas, tentu lesunya perekonomian China akan memengaruhi langsung kondisi neraca pembayaran dalam negeri.

Baca juga: Perang Dagang AS-China Bikin Kinerja Ekspor RI Sulit Diterka

"Sebenarnya dengan ekonomi China yang diperkirakan akan melambat dari yang sebelumnya tumbuh 6,4 persen di 2018 tahun ini diperkirakan 6,3 persen masih tidak terlalu berpengaruh, mungkin akan turun (ekspor) tapi masih di dalam skenario," ujar Mirza.

Sehingga, tantangan perekonomian Indonesia ke depan masih meliputi harga komoditas yang diperkirakan masih belum membaik lantaran kondisi perekonomian China yang belum ada tanda-tanda perbaikan.

"Kalau bicara tahun 2019 ke depan kita menghadapi ekonomi China belum recovery, jadi kita masih bicara harga komoditas yang kemungkinan masih berada di level bawah, ini tantangan," jelas dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X