OJK: Kebijakan Moneter AS Melonggar, Modal Asing Kembali Masuk ke RI

Kompas.com - 28/03/2019, 15:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga.

Kinerja intermediasi dan profil risiko lembaga jasa keuangan stabil pada Februari 2019.

Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK Yohannes Santoso mengatakan perlambatan perekonomian global yang diikutikebijakan moneter negara-negara utama seperti AS, Uni Eropa, dan China yang lebih longgar (dovish) mendorong berlanjutnya inflow atau aliran dana masuk ke pasar negara berkembang atau emerging market termasuk Indonesia.

Baca juga: Aliran Modal Asing Banjiri Indonesia, Ini Sebabnya

Data OJK menunjukkan, hingga 22 Maret 2019 lalu, total dana asing yang masuk di Indonesia mencapai Rp 11,2 triliun.

"Ini tren yang membaik karena pada 2017 hingga 2018 lalu kita sangat tertekan. Tentu ini hal yang menggembirakan," ujar Santoso di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Sejalan dengan perkembangan di pasar keuangan global, pasar saham dan nilai tukar rupiah pada bulan Februari melemah tipis masing-masing sebesar 1,37 persen dan 0,64 persen secara bulanan (mtm), dengan investor non residen membukukan net sell di pasar saham sebesar Rp 3,4 triliun.

Baca juga: BI: Triwulan I, Total Modal Asing Masuk ke RI Rp 74,4 Triliun

Namun demikian, secara year to date Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menguat 4,02 persen dengan investor non residen membukukan net buy sebesar Rp 10,5 triliun.

"Secara sektoral, kontributor terbesar penurunan IHSG di Feburari berasal dari sektor aneka industri dan pertanian. Sementara pasar SBN menguat dengan yield rata-rata di Februari turun 26,7 bps (basis poin). Investor di pasar SBN tercatat membukukan net buy sebesar Rp 32,8 triliun," ujar Santoso.

Pada Februari, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan meneruskan tren perbaikan. Pertumbuhan kedit perbankan melanjutkan tren peningkatan dan penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 12,13 persen (yoy).

Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 4,61 persen.

Baca juga: Banyak Tantangan, Bank BUMN Pede Pertumbuhan Kredit Bisa 15 Persen

"Pertumbuhan kredit didorong oleh tingginya pertumbuhan kredit untuk kegiatan investasi, memberikan harapan peningkatan aktivitas ekonomi ke depan," jelas dia.

Adapun DPK perbankan tercatat tumbuh 6,57 persen secara tahunan (yoy). Sedangkan untuk asuransi jiwa dan asuransi umum berhasil menghimpun premi masing-masing sebesar Rp 15,4 triliu dan Rp 8,5 triliun.

Di pasar modal, korporasi berhasil menghimpun dana Rp 13,4 triliun di sepanjang Februari 2019 dengan jumlah emiten baru sebanyak 2 perusahaan. Dana kelolaan investasi tercatat sebesar Rp 767 triliun, meningkat 5,68 persen dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.