Apakah Tarif Ojek Online yang Baru Sudah Ideal?

Kompas.com - 29/03/2019, 07:00 WIB
Ojek Online yang manggkal di bawah kolong flyover dekat Stasiun Tebet StanlyOjek Online yang manggkal di bawah kolong flyover dekat Stasiun Tebet

Baca juga: Tarif Ojek Online Akan Dievaluasi Tiap Tiga Bulan

Formula penghitungan tarif terdiri dari biaya langsung dan tak langsung. Biaya langsung terbagi dari biaya penyusutan kendaraan, bunga modal, pengemudi, asuransi, pajak kendaraan, BBM, ban, pemeliharaan dan perbaikan kendaraan, penyusutan telepon seluler, pulsa serta keuntungan mitra.

Adapun biaya tak langsung meliputi biaya penyewaan aplikasi.

“Biaya jasa ini akan kami lakukan analisis dan evaluasi setiap tiga bulan, dan bisa dilakukan perubahan. Artinya, setiap tiga bulan tarif bisa berubah," ujar Budi di kantornya, Jakarta, Senin (25/3/2019).

Budi menambahkan, aplikator ojek online boleh mengenakan biaya tambahan maksimal 20 persen dari tarif yang telah ditentukan pihaknya.

Baca juga: Kemenhub Bandingkan Tarif Ojek Online di Thailand dan Vietnam

Biaya tambahan maksimal 20 persen itu merupakan biaya tak langsung atau biaya sewa penggunaan aplikasi. Sedangkan biaya yang telah ditetapkan Kemenhub merupakan tarif bersih (nett) yang diterima pengemudi.

“Tarif perhitungan yang dilakukan biaya langsung saja dan biaya tidak langsung sebagai biaya jasa yang ada di dalam pihak aplikator 20 persen, tidak boleh lebih kemudian, 80 persen hak pengemudi,” ujar Budi.

Dengan begitu, pengguna jasa ojek online akan membayar tarif lebih besar 20 persen dari yang telah ditetapkan Kemenhub. Jika tarifnya Rp 2.000 per kilometer, maka yang harus dibayarkan pengguna sebesar Rp 2.400.

Baca juga: Driver: Tarif Ojek Online yang Ditetapkan Kemenhub Belum Sesuai Aspirasi

Kendati telah dinaikan, para pengemudi pun belum merasa puas. Anggota presidium Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono menilai tarif ojek online yang telah ditetapkan Kementerian Perhubungan belum sesuai aspirasi dari para pengemudi.

Pengemudi ojek online sendiri meminta tarif Rp 2.400 (nett) per kilometernya. Sementara Kemenhub menetapkan tarif sebesar Rp 2.000 sampai Rp 2.500 (nett) per kilometernya.

"Jadi tanggapan kami keputusan tarif belum sesuai dengan aspirasi kami," kata Igun.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X