Wanita Ini Hasilkan Pundi-pundi Uang dari Bisnis Daur Ulang Limbah

Kompas.com - 30/03/2019, 09:11 WIB
Ilustrasi daur ulang limbah elektronikTheVerge Ilustrasi daur ulang limbah elektronik

JAKARTA, KOMPAS.com - Lessa Gresh, pemilik The Heart Project, sebuah bisnus  mengolah limbah dan barang bekas menjadi barang berguna yang berlokasi di Surabaya menghasilkan pundi-pundi uang dari daur ulang limbah yang ia tekuni.

Lessa mengatakan, kecintaannya pada lingkungan dan ketertarikannya untuk berkontribusi melakukan sesuatu secara positif ke masyarakat menghantarkannya mempunyai bisnis ini.

"Awalnya enggak berpikiran mau jadiin bisnis, tapi semakin lama peminatnya semakin banyak dan produk yang dihasilkan juga makin banyak," ujar Lessa Gresh saat ditemui Kompas.com dalam pameran The Local Market di Jakarta, Jumat (29/3/2019).

Baca juga: Bagaimana Mengetahui Bisnis Anda akan Sukses? Ini Kata Miliarder AS

Memang, barang yang dia jual semua dihasilkan dari barang bekas seperti anting-anting lucu dari hasil olahan ban motor, pajangan dari olahan kertas bekas, gantungan kunci, tas, table top dari tutup botol, electric canjolele, guitar lele dari kaleng biskuit dan masih banyak lagi.

Dari barang-barang tersebut, hasilnya menjadi mainan, perangkat rumah tangga, barang fashion, aksesoris, educational workshops, dan kerajinan tangan.

"Adapun kalau produknya dari barang baru itu zero waste. Jadi dalam pengerjaannya atau dalam pembuatannya tidak menghasilkan limbah," kata Lessa.

Baca juga: Bisnis Kuliner Itu Enggak Mudah...

Barang yang dijual tersebut ditawarkan mulai harga Rp 15.000 hingga Rp 5 juta. Terkait omzet, dia tidak menyebutkan jumlahnya tetapi dia mengaku masih terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak dimulai tahun 2015.

"Tapi ada peningkatan dari tahun ke tahun, for sure ada peningkatan. Kalau di Jakarta kita lebih lihat banyak yang minat ke produk, kalau di Surabaya saya lihat lebih banyak mau belajar membuat produk," ujar Lessa.


Awal Mula Berbisnis

Lessa mengatakan, awalnya dia terinspirasi dari seorang sahabat yang memberikannya hadiah dari hasil olahan limbah. Namun, jauh sebelum itu, dia pernah diomeli seseorang saat tidak mematikan mesin mobil selama menunggu kedatangan seseorang.

"Jadi saya tinggal di luar negeri 10 tahun. Saya pernah bawa mobil dimarahin, karena saya lagi nunggu, lagi parkir, tapi saya membiarkan mesinnya nyala. terus mereka bilang 'kan kamu lagi nunggu, kenapa enggak dimatiin saja mesinnya dibuka jendelanya?," kata Lessa bercerita.

Sejak saat itu, dia berpikir dampak yang dihasilkan dari menyalakan mobil pun bisa merusak lingkungan. Akhirnya, dia memutuskan untuk berkontribusi lebih terhadap lingkungan.

Baca juga: Ingin Bisnis Sewa Apartement? Ini 4 Tips yang Perlu Disimak

"Jadi memang ada kejadian-kejadian sebelum 2015 itu yang memang sudah membuat saya berpikir untuk melakukan sesuatu," ujarnya.


Alami Kesusahan

Saat berbisnis memang banyak kendala yang dihadapi. Tak terkecuali dengan bisnis yang Lessa geluti. Lessa seringkali menemui orang yang masih belum sadar terhadap lingkungan.

"Pernah dibilang sama orang, saya nunjukkin baju hasil olahan saya, lalu saya jelaskan bahwa baju itu tidak menghasilkan limbah apapun dalam pembuatannya. Terus saya jelasin kalau kainnya cukupnya cuma satu kantong yang saya buat hanya satu. Orangnya bilang 'kenapa sih mbak? ngirit ya?," kata Lessa.

Tapi kejadian-kejadian seperti itu tidak menyurutkan tekadnya. Lessa terus mengembangkan bisnisnya dan mengajak orang-orang untuk membuat olahan limbah bersamanya.

Baca juga: Ini Rahasia Menjalankan Bisnis Jastip

Dari bisnis ini, Lessa mendapatkan banyak manfaat mulai dari pundi-pundi uang yang dihasilkan, membuat bisnis tanpa memperbanyak limbah, mempromosikan gaya hidup lingkungan, dan menambah relasi pertemanan. Dia juga bisa membuat workshop dan pelatihan-pelatihan untuk orang lain yang ingin membuat kerajinan tangan dari limbah.




Close Ads X