Demi Anak Muda, Riki Sonjaya Rela Tinggalkan Gaji Besar

Kompas.com - 01/04/2019, 10:10 WIB
Riki Sonjaya, Direktur Operasional Young On TopKOMPAS.com/Ambaranie Nadia Riki Sonjaya, Direktur Operasional Young On Top

JAKARTA, KOMPAS.com - Riki Sonjaya, Direktur Operasional Young On Top, memiliki perjalanan berliku dalam kehidupannya belasan tahun terakhir. Terutama dari segi karier.

Sebelum bergabung dengan YOT, ia merupakan praktisi di industri tambang dengan gaji besar. Padahal, latar belakangnya adalah teknik mesin Institut Teknologi Bandung.

Perjalanannya menuju posisi saat ini tak terbilang mudah. Dibandingkan saudaranya yang lain, Riki merupakan satu-satunya yang menginjak bangku kuliah. Sementara kakak-kakaknya rata-rata hanya lulusan sekolah menengah pertama. Dia akhirnya memutuskan untuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena permintaan ayahnya.

"Katanya, 'papa punya anak lima kenapa tidak ada yang sekolah (tinggi). Papa rela jungkir balik demi kamu kuliah'," ujar Riki, Jumat (29/3/2019).

Baca juga: Ini Tips dan Pilihan Investasi yang Cocok Buat Anak Muda

Tanpa berbekal pengetahuan apa-apa soal jurusan perkuliahan, ia mencari referensi ke tetangga. Saat itu, tetangganya ada yang sukses setelah menempuh mendidikan teknik mesin di ITB. Dia pun mencoba jurusan yang sama dan lulus seleksi.

Begitu lulus, targetnya adalah mendapat pekerjaan dengan gaji besar. Meski tak seusai dengan jurusan perkuliahannya, hal itu tak menjadi masalah bagi Riki. Setelah melihat berbagai lowongan kerja, rata-rata perusahaan yang menawarkan gaji tinggi adalah perusahaan tambang, seperti batu bara, minyak dan gas, dan sebagainya. Akhirnya ia memilih satu perusahaan tambang batu bara.

Riki mengatakan, saat itu angka kecelakaan kerja di tambang batu bara cukup tinggi hingga 17 jiwa pada 2007.

"Saya diminta bagaimana mengecilkan angka kematian kerja di tambang. Akhirnya 2008 berhasil dikurangi," kata Riki.

Atas keberhasilannya itu, dia dipercaya untuk menjadi leader untuk kompetensi perusahaan tambang di Indonesia. Namun, ia hanya bekerja empat tahun di perusahaan tersebut dan loncat ke perusahaan bidang minyak dan gas.

Baca juga: Anak Muda dan Modal Sosial

Tak lama mengisi posisi di perusahaan baru, ia ditunjuk sebagai leader untuk tender sebuah proyek di Samarinda. Riki diberi waktu 8 bulan untuk memenangkan tender tersebut. Saat itu, dia mengaku belum mendalami seluk beluk migas dan bagaimana proses tender berjalan. Selama waktu yang diberikan, ia mempelajari itu semua.

Hingga akhirnya hari itu pun tiba, hari di mana perusahaan-perusahaan migas berkumpul untuk memaparkan produk mereka masing-masing.

"Level General Manager kan biasanya badannya besar-besar, tegap-tegap. Saya kecil sendiri. Saat saya kasih kartu nama juga bukan yang langsung dilirik," kata Riki.

Riki tak gentar. Dia meyakinkan diri bahwa bisa menandingi kompetitornya. Ternyata, usahanya berhasil. Perusahaannya memenangkan tender tersebut.

Halaman:



Close Ads X