Dampak Buruk Brexit, Ekonomi Inggris Rugi Rp 11 Triliun Tiap Minggu

Kompas.com - 02/04/2019, 17:45 WIB
Warga Inggris menggelar unjuk rasa untuk menyerukan referendum lain tentang keanggotaan Uni Eropa di tengah kelumpuhan politik atas Brexit, di London, Sabtu (23/3/2019). (AFP/Isabel Infantes)
Warga Inggris menggelar unjuk rasa untuk menyerukan referendum lain tentang keanggotaan Uni Eropa di tengah kelumpuhan politik atas Brexit, di London, Sabtu (23/3/2019). (AFP/Isabel Infantes)

LONDON, KOMPAS.com - Keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit memberikan pengaruh buruk terhadap perekonomian Inggris. Tercatat kerugian ekonomi akibat Brexit mencapai 600 juta poundsterling setiap minggu atau setara sekira Rp 11,1 triliun.

Goldman Sachs melaporkan, kerugian ekonomi tersebut diderita Inggris setiap minggunya sejak referendum Brexit tahun 2016 silam. Hal itu diungkapkan Goldman Sachs dalam laporannya yang dirilis awal pekan ini.

Dilansir dari Reuters, Selasa (2/4/2019), laporan tersebut menggambarkan bagaimana ketidakpastian akibat Brexit mengikis investasi. Pun laporan itu menyatakan Brexit memangkas produk domestik bruto (PDB) Inggris hampir sebesar 2,5 persen pada akhir 2018 dibandingkan sebelum referendum pada pertengahan 2016.

Baca juga: Imbas Brexit, 7.000 Karyawan di Sektor Keuangan Hengkang dari Inggris

"Dampak ketidakpastian terkait hubungan ekonomi dan politik dengan Uni Eropa telah memberikan dampak nyata bagi ekonomi Inggris, yang kemudian merambah ke negara-negara lainnya," tulis para ekonom Goldman Sachs dalam laporannya.

Goldman Sachs menyatakan pula bahwa ketidakpastian terkait Brexit menjadi penyebab utama kerugian aktivitas ekonomi yang terkonsentrasi pada investasi.

"Gejolak ketidakpastian memberatkan pertumbuhan investasi sesaat setelah voting Brexit, termasuk juga pada saat akhir-akhir ini akibat intensifikasi ketidakpastian Brexit," ujar mereka.

Baca juga: Imbas Brexit, Pertumbuhan Ekonomi Inggris Semakin Anjlok di 2019

Skenario Brexit tanpa kesepakatan berarti, menurut Goldman Sachs, akan memberikan 15 persen kemungkinan PDB Inggris anjlok 5,5 persen. Nilai tukar mata uang poundsterling pun diprediksi merosot 17 persen.

Negara-negara Uni Eropa akan terdampak paling besar terkait skenario ini. PDB riil Uni Eropa diprediksi Goldman Sachs akan terkikis sekira 1 persen.

Secara keseluruhan, dampak pelemahan pertumbuhan ekonomi Inggris akan sangat dirasakan oleh negara-negara yang memiliki eksposur ekspor terbesar dengan Inggris, seperti Jerman dan Perancis.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Reuters
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X