Brexit Tak Kunjung Pasti Bikin Ekonomi Inggris Kian Loyo

Kompas.com - 03/04/2019, 09:45 WIB
Warga Inggris menggelar unjuk rasa untuk menyerukan referendum lain tentang keanggotaan Uni Eropa di tengah kelumpuhan politik atas Brexit, di London, Sabtu (23/3/2019). (AFP/Isabel Infantes)
Warga Inggris menggelar unjuk rasa untuk menyerukan referendum lain tentang keanggotaan Uni Eropa di tengah kelumpuhan politik atas Brexit, di London, Sabtu (23/3/2019). (AFP/Isabel Infantes)

LONDON, KOMPAS.com - Ketidakmampuan politis Inggris dalam menyepakati sikap yang dilakukan untuk meninggalkan Uni Eropa telah membawa Brexit menjadi kian tak jelas. Hal tersebut turut membuat ekonomi Inggris kian loyo.

Pasar properti yang kian lemah, produksi manufaktur mobil yang kian turun, investasi melorot, serta iklim investasi yang suram menunjukkan ketidakpastian Brexit yang berlangsung hampir 3 tahun menyebabkan ekonomi Inggris mandek.

Seperti dikutip dari CNN, Rabu (3/4/2019), Kamar Dagang Inggris pada Selasa (2/4/2019) waktu setempat menyampaikan hasil survei terhadap 7.000 pelaku bisnis yang meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi hampir terhenti pada kuartal pertama tahun ini.

Baca juga: Dampak Buruk Brexit, Ekonomi Inggris Rugi Rp 11 Triliun Tiap Minggu

"Temuan kami merupakan peringatan bahwa kebuntuan yang sedang berlangsung di Westminster berkontribusi terhadap perlambatan tajam dalam ekonomi," ujar Direktur Jenderal Lobi Bisnis Kamar Dagang Inggris Adam Marshall.

Perekonomian Inggris hanya mengalami ekspansi sebesar 0,2 persen pada tiga bulan yang berakhir pada Januari lalu. Ekonom pun mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi yang kian melemah setelahnya.

Salah satu kunci yang bisa menunjukkan melemahnya ekonomi Inggris adalah sektor jasa yang berkontribusi terhadap 80 persen PDB Inggris.

Baca juga: Imbas Brexit, 7.000 Karyawan di Sektor Keuangan Hengkang dari Inggris

Survei yang dilakukan IHS Markit menunjukkan penerimaan tenaga kerja di sektor jasa terus turun dan mengalami penurunan tercepat sejak 2012 pada Februari ini seiring dengan perusahaan yang memutuskan untuk menunda membuka lowongan kerja karena ketidakpastian Brexit.

Chief Business Economist IHS Markit Chris Williamson mengatakan, data survei mengindikasikan ekonomi Inggris akan cenderung stagnan di Februari dan mengalami perlambata pertumbuhan ekonomi sebesar 0,1 persen di kuartal pertama tahun ini.

Sektor konstruksi juga mengalami perlambatan pada Maret ini. Meski, sektor manufaktur sedikit mengalami peningkatan.

Baca juga: Imbas Brexit, Pertumbuhan Ekonomi Inggris Semakin Anjlok di 2019

Sektor yang paling terdampak Brexit adalah sektor properti. Harga rumah di ondon turun 3,8 persen pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Berdasarkan data pemberi pinjaman hipotek Nationwide, penurunan tersebut adalah yang tertajam sejak 2009.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BCA Siapkan Rp 400 Miliar untuk Suntik Modal ke Startup

BCA Siapkan Rp 400 Miliar untuk Suntik Modal ke Startup

Whats New
Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor di Alfamart

Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor di Alfamart

Whats New
Kejar Target Investasi Rp 1.200 Triliun, Bahlil: Memang Tidak Mudah...

Kejar Target Investasi Rp 1.200 Triliun, Bahlil: Memang Tidak Mudah...

Whats New
Bank Indonesia dan The People’s Bank Of China Sepakat Perbarui Perjanjian Swap Bilateral

Bank Indonesia dan The People’s Bank Of China Sepakat Perbarui Perjanjian Swap Bilateral

Whats New
Pembangunan Ibu Kota Nusantara Terbagi atas 3 Wilayah

Pembangunan Ibu Kota Nusantara Terbagi atas 3 Wilayah

Whats New
Penjelasan Bos Grup Lippo Seputar Aksi XL Axiata Akuisisi Link Net

Penjelasan Bos Grup Lippo Seputar Aksi XL Axiata Akuisisi Link Net

Rilis
Di Hadapan Tony Blair, Jokowi Tegaskan Tak Mau Ekspor Bahan Mentah

Di Hadapan Tony Blair, Jokowi Tegaskan Tak Mau Ekspor Bahan Mentah

Whats New
Bangun Sistem Transportasi IKN Butuh Rp 582,6 Miliar di 2022, Menhub Undang Swasta Berpartisipasi

Bangun Sistem Transportasi IKN Butuh Rp 582,6 Miliar di 2022, Menhub Undang Swasta Berpartisipasi

Whats New
Tumbuh 66,8 Persen, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp 28 Triliun pada 2021

Tumbuh 66,8 Persen, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp 28 Triliun pada 2021

Whats New
Pengembangan Kawasan Industri Terus Digenjot

Pengembangan Kawasan Industri Terus Digenjot

Whats New
Mentan RI dan Mentan Australia Bahas 3 Hal Penting, dari Ekspor Beras hingga Impor Daging

Mentan RI dan Mentan Australia Bahas 3 Hal Penting, dari Ekspor Beras hingga Impor Daging

Whats New
Laba BCA Melampaui Perkiraan, Tumbuh 15,8 Persen di 2021

Laba BCA Melampaui Perkiraan, Tumbuh 15,8 Persen di 2021

Whats New
Milenial dan Gen Z Dinilai Perlu Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Milenial dan Gen Z Dinilai Perlu Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Whats New
Mulai 1 Februari 2022, Harga Minyak Goreng Curah Turun Jadi Rp 11.500 Per Liter

Mulai 1 Februari 2022, Harga Minyak Goreng Curah Turun Jadi Rp 11.500 Per Liter

Whats New
Pemerintah Tetapkan Minyak Goreng Merek Paling Mahal Rp 14.000 Seliter

Pemerintah Tetapkan Minyak Goreng Merek Paling Mahal Rp 14.000 Seliter

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.