CEO Boeing Minta Maaf pada Korban Pesawat 737 Max-8

Kompas.com - 05/04/2019, 17:54 WIB
Ekor dan sayap pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEAREkor dan sayap pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

NEW YORK, KOMPAS.com - CEO Boeing Dennis Muilenburg menyampaikan permohonan maaf perusahaan terhadap korban dari jatuhnya pesawat 737 Max 8 milik Lion Air dan Ethiopian Airlines.

"Tragedi ini terus membebani hati dan pikiran kita, dan kita memperluas simpati kita kepada orang-orang tercinta dari penumpang dan kru Lion Air 610 dan Ethiopian Airlines 302," ujarnya dalam sebuah pernyataan tertulis seperti dikutip dari CNN, Jumat (5/4/2019).

Hal itu disampaikan Muilenburg menyusul diumumkannya hasil laporan awal kecelakaan Ethiopian Airlines 302. Laporan itu  menunjukkan, bahwa kapten dan co-captain 737 Max 8 tersebut kesulitan dalam mengendalikan sistem yang didesain untuk menghindarkan pesawat dari posisi stall.

Sistem pesawat tersebut justru berkali-kali memaksa hidung pesawat mengarah ke bawah. Selama hampir enam menit, laporan tersebut menunjukkan, pilot terus bekerja untuk bisa mengambil alih kendali pesawat.

Baca juga: Pilot Ethiopian Airlines Sudah Ikuti Panduan Boeing Saat Pesawat Mengalami Masalah

Masalah yang muncul pada Ethiopian Airlines serupa dengan yang terjadi dengan pesawat Lion Air penerbangan JT-610 yang jatuh di perairan Karawang pada Oktober 2018 lalu.

Kecelakaan yang terjadi pada Ethiopian Airlines pun menjadi pukulan tersendiri bagi Boeing yang saat itu tengah berupaya memulihkan kepercayaan untuk bisa mengoperasikan kembali pesawat jenis 737 Max-8 tersebut.

Dalam laporan awal tersebut digambarkan bagaimana pilot mengatakan "pull up" sebanyak tiga kali kepada co-pilotnya untuk mengangkat hidung pesawat. Kedua pilot berupaya untuk mengangkat hidung pesawat untuk menjaga agar pesawat bisa tetap terbang, namun mereka tidak mampu mengendalikan kontrol pesawat.

Sistem anti-stall yang terpasang dalam Boeing 737 Max-8 justru menarik hidung pesawat ke bawah selama empat kali dalam penerbangan tersebut.

Akhirnya, setelah pilot memutuskan untuk kembali ke Bandara Addis Ababa, sistem otomatis tersebut membuat pesawat menukik turun yang sulit untuk dikendalikan dan akhirnya jatuh ke bawah.

Seluruh penumpang dan kru yang berjumlah 157 orang meninggal dalam kecelakaan tersebut.

baca juga: Akibat Tragedi 737 Max 8, Nilai Pasar Boeing Lenyap 40 Miliar Dollar AS

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNN
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X