Tekan Kerugian, Boeing Pangkas Produksi 737 Sebesar 19 Persen

Kompas.com - 08/04/2019, 06:40 WIB
Pesawat pertama seri Boeing 737 MAX 8, diperlihatkan di pabrik perakitan di Renton, Washington, 8 Desember 2015. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. GETTY IMAGES/AFP PHOTO/STEPHEN BRASHEARPesawat pertama seri Boeing 737 MAX 8, diperlihatkan di pabrik perakitan di Renton, Washington, 8 Desember 2015. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

NEW YORK, KOMPAS.com - Produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat Boeing memangkas produksi rangkaian produk pesawat 737nyya untuk pertama kali sejak serangan 11 September 2001. Boeing tengah berupaya untuk menekan kerugian lantaran pelarangan terbang jenis pesawat terbaru serta terlarisnya belakangan ini.

Dengan memangkas produksi hingga 19 persen menjadi 42 pesawat perbulan di pertengahan April ini, Boeing bisa menghemat uang dan mengurangi pengeluarannya untuk 737.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (8/4/2019), dengan melambatnya produksi Boeing di pabrik mereka di Seattle, dua pemasok utama mereka CFM International dan Spirit Aerosystems Holding akan menyesuaikan diri.

CEO Boeing Dennis Muilenburg pada Jumat (5/4/2019) memaparkan rencana tersebut sebagai salah satu upaya perusahaan untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap 737 Max dan komitment perusahaan terhadap keselamatan setelah dua pesawatnya jatuh dalam selisih waktu 5 bulan.

Baca juga: CEO Boeing Minta Maaf pada Korban Pesawat 737 Max-8

Boeing tengah menghadapi penyelidikan kriminal dan kongres karena kecelakaan tersebut. Untuk membantu mengatasi hal tersebut, pejabat perusahaan pun membentuk sebuah komite yang berfungsi untuk meninjau desain dan perkembanga pesawatnya.

"Keselamatan adalah tanggung jawab kami, dan kami memilikinya," ujar Muileberg dalam keterangan tertulisnya.

"Ketika Max kembali mengudara, kami telah berjanji kepada pelanggan maskapai kami dan penumpang serta kru pesawat bahwa (pesawat tersebut) seaman pesawat lain yang pernah mengudara," lanjut Muilenburg.

Meskipun laju produksi Boeing kian lambat, Boeing tetap harus menghadapi kerugian di kuartal pertama tahun ini mencapai 3,6 miliar dollar AS.

Analis Bloomberg George Ferguson mengatakan, seiring dengan produksi pesawat yang terus berjalan, Boeing harus melewatnya pembayaran dari pelanggan yang tidak bisa menerima pengiriman karena pelarangan terbang.

Sebelum tragedi Lion Air dan Ethiopian Airlines, Boeing telah berencana untuk meningkatkan produksi 737 sebesar 10 persen di pertengahan tahun. Namun kejadian ini merusak rencana tersebut ketika perusahaan telah memerima lebih banyak pekerja dan melakukan ekspansi kapasitas produksi. Beberapa pabrik bahkan sudah mulai bergerak untuk melakukan produksi 57 pesawat per bulan dengan jadwal yang terencana.

Boeing akan berkoordinasi dengan pelanggan dan pemasoknya untuk menghindari dampak finansial dari perlambatan tersebut. Saat ini, Boeing juga tengah berencana untuk menghentikan pekerja dari program 737.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Bloomberg
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X