KILAS

Kementan: Bantuan Alsintan Atasi Permasalahan Kelangkaan Buruh Tani

Kompas.com - 09/04/2019, 11:45 WIB
Petani Indramayu sedang menggunakan alsintan bantuan Kementan, Kamis (4/4/2019). Total pemerintah sudah memberikan bantuan lebih dari 600.000 alsintan kepada petani Indonesia dalam 4,5 tahun terakhir.KOMPAS.com/Mico Desrianto Petani Indramayu sedang menggunakan alsintan bantuan Kementan, Kamis (4/4/2019). Total pemerintah sudah memberikan bantuan lebih dari 600.000 alsintan kepada petani Indonesia dalam 4,5 tahun terakhir.

KOMPAS.com - Program bantuan alat mesin pertanian (alsintan) yang digagas Kementerian Pertanian (Kementan) dinilai berhasil mengatasi berbagai masalah pertanian yang ada. Salah satunya sebagai solusi semakin langkanya keberadaan buruh tani.

Bukan cuma itu, dengan alsintan maka bisa menekan biaya produksi petani. Hal ini dikaatakan Direktur Jenderal Prasaranan dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy.

Ia menilai jika program bantuan alsintan ini mampu menekan biaya operasional petani sekitar 35 persen hingga 48 persen. Efisiensi itu terjadi karena dengan alsintan dapat meminimalisir biaya upah buruh tani yang selain langka, juga terhitung mahal.

Lebih dari itu, dengan adanya bantuan alsintan dapat pula menghemat waktu para petani saat melakukan aktivitasnya.

Sebagai contoh melalui combine harvester panen bisa secara otomatis dilakukan dalam sekali jalan. Ini karena alat tersebut dilengkapi penebas, perontok, yang kemudian keluar dalam bentuk gabah.

Dengan demikian petani bisa langsung memasukkan gabah ke dalam karung dan waktu bisa terpangkas dengan efisien.

"Dulu petani bisa membajak sawahnya satu hektar (ha) saja bisa berhari-hari, tapi kini sejak ada bantuan alsintan cukup 2-3 jam saja," ujar Sarwo Edhy sesuai dengan rilis yang Kompas.com terima, Selasa (9/4/2019).

Ihwal pernyataan Sarwo turut di setujui oleh Maman Suherman, Ketua Kelompok Tani (Poktan) di Desa Mundu, Cirebon, Jawa Barat.

Menurut Maman, petani di Desa Mundu sangat terbantu dengan tersedianya alsintan dari Usaha Pelayanan jasa Alsintan (UPJA). Sebab untuk mendapatkan buruh tani di desanya sangat sulit dan ongkosnya mahal.

"Penggunaan alsintan sangat membantu petani mulai olah tanah hingga panen. Kami bisa olah tanah, tanam dan panen lebih cepat sehingga lebih efektif dan efisien," papar Maman.

Lebih jauh Maman mengakui, setelah menggunakan alsintan kurun 2-3 tahun terakhir, usaha taninya jauh lebih maju khususnya dalam sisi pendapatan.

"Kalau gabah kering giling (GKG) Rp 4.500 per kg. Semua gabah dari petani di sini umumnya dijual melalui koperasi," ujar Maman.

Melihat program tersebut berhasil menuai perkembangan positif, Sarwo Edhy mengatakan, dirinya berharap bantuan alsintan pada 2019 semakin banyak dan semakin menyejahterakan petani.

"Kementan terus berkomitmen melanjutkan bantuan alsintan sehingga petani di seluruh wilayah di Indonesia dapat merasakan dampaknya," tutup Sarwo.


Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X