Valuasinya Terus Merosot, Boeing Dituntut Pemegang Saham

Kompas.com - 10/04/2019, 09:31 WIB
Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEARPesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

NEW YORK, KOMPAS.com - Masalah hukum yang dihadapi perusahaan produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing kian bertambah.

Dikutip dari Reuters, Rabu (10/4/2019), Boeing menerima gugatan baru dari pemegang saham yang merasa ditipu lantaran Boeing dianggap menyembunyikan kekurangan keamanan di pesawat 737 MAX sebelum dua kecelakaan fatal membuat seluruh jenis pesawat tersebut mendapatkan pelarangan terbang di seluruh dunia.

Pengajuan guguatan yang dilakukan di pengadilan Federal Chicago tersebut berupaya untuk menagih ganti rugi tas dugaan pelanggaran keamanan setelah nilai valuasi pasa Boeing anjlok hingga 3 miliar dollar AS dalam waktu dua minggu sejak kecelakaan Ethiopian Airlines yang terjadi pada 10 Maret lalu.

CEO Boeing Dennis Muilenburh dan CFO Boeing Gregory Smith pun menjadi pihak yang juga disebut-sebut dalam kasus ini.

Namun, juru bicara Boeing Charles Bickers tidak segera memberikan tanggapan atas kasus ini.

Dalam keluhan tersebut tertulis bahwa Boeing telah menempatkan keuntungan dan pertumbuhan perusahaan di atas keamanan dan kejujuran dengan memroduksi serta memasarkan 737 Max ke pasar untuk bersaing dengan Airbus SE.

Boeing pun dianggap lalai tidak memberikan fitur-fitur ekstra untuk mencegah kecelakaan yang terjadi pada Ethiopian Airlines maupun Lion Air.

Penggugat utama dalam tuntutan kepada Boeing kali ini, Richar Seeks, mengatakan, kompromi Boeing baru muncul setelah kecelakaan Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang yang terjadi setelah kecelakaan Lion Air yang menewaskan 189 orang.

Seeks mengatakan, dirinya membeli 300 saham Boeing di awal Maret dan menjualnya dua minggu belakangan secara rugi. Gugatan ini diajukan oleh mereka yang menjadi investor Boeing dalam kurun waktu 8 Januari hingga 21 Maret 2019.

Sebagai informasi, pemegang saham memang kerap mengajukan tuntutan hukum kepada perusahaan yang dianggap melakukan penipuan karena menyembunyikan informasi negatif sehingga harga saham merosot setelah dipublikasikan.

Boeing yang berbasis di Chicago pun harus menghadapi banyak tuntutan hukum lain karena kedua kecelakaan tersebut termasuk oleh keluarga korban dan karyawan mereka yang akan memasuki masa pensiun.

Boeing pun menyatakan, pesawan pesawat mereka pada kuartal pertama tahun ini merosot jadi 95 pesanan pesawa dari 180 pesanan tahun lalu, dengan tidak adanya pesanan pesawat jenis 737 Max yang mendapatkan larangan terbang.



Sumber Reuters
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X