BPN: Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Tidak Cukup untuk Berantas Kemiskinan

Kompas.com - 10/04/2019, 19:02 WIB
Diskusi terkait roadmap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (10/4/2019).KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA Diskusi terkait roadmap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pemenangan Nasional ( BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengkritik pertumbuhan ekonomi selama pemerintahan Joko Widodo.

Tim Ekonomi BPN, Anthony Budiawan menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di angka 5 persen. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi di angka tersebut sulit untuk mengentaskan kemiskinan.

“Kalau kita lihat (pertumbuhan ekonomi) 5 persen itu tidak cukup cepat untuk memberantas kemiskinan," ujar Anthony di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Baca juga: Sandiaga Janjikan Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen dalam Dua Tahun jika Menang Pilpres 2019

Anthony pun menyinggung janji Presiden Joko Widodo yang akan menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7 persen. Namun, nyatanya hal tersebut tak terjadi selama 4 tahun masa pemerintahan Jokowi.

“Pertumbuhan ekonomi 2018 5,17 persen seolah-olah tinggi, tetapi kalau dilihat dari demand size itu hanya 4,4 persen. Di mana selisih 0,77 persen itu? Masuk inventory," kata Anthony.

Menurut dia, paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Jokowi tak mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia berpandangan, ada yang salah dengan fundamental perekonomian Indonesia.

Baca juga: Siapa yang Merasakan Dampak Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?

“Kalau fundamental kuat maka neraca transaksi berjalan kuat. Kalau neraca berjalan defisit berarti ada masalah pada fundamental ekonomi,” ucap dia.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X