BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan DanaRupiah

Membaca Masa Depan Petani di Indonesia

Kompas.com - 13/04/2019, 08:19 WIB
Petani Indramayu sedang menggunakan alsintan bantuan Kementan, Kamis (4/4/2019). Total pemerintah sudah memberikan bantuan lebih dari 600.000 alsintan kepada petani Indonesia dalam 4,5 tahun terakhir. KOMPAS.com/Mico DesriantoPetani Indramayu sedang menggunakan alsintan bantuan Kementan, Kamis (4/4/2019). Total pemerintah sudah memberikan bantuan lebih dari 600.000 alsintan kepada petani Indonesia dalam 4,5 tahun terakhir.
|

KOMPAS.com- Melalui riset Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) pada 2015 mengenai bahasan “Regenerasi Petani” disimpulkan bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi krisis regenerasi petani.

Mata pencaharian tersebut, tak lagi seksi di mata anak muda. Sebanyak 54 persen anak petani yang juga menjadi responden mau meneruskan apa yang dikerjakan orangtuanya. Sedangkan 46 persen sisanya tak terpikirkan, atau bahkan menolak dengan tegas.

Kondisi petani yang tergerus zaman menjadi ironis kala dihadapkan dengan kebutuhan pangan untuk kehidupan yang akan terus ada.

Meskipun saat ini, data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2018 mendapati jumlah pekerja di sektor pertanian masih tergolong besar, yakni tercatat 35,7 juta orang atau 28,79 persen dari total penduduk bekerja.

Akan tetapi, bukan tidak mungkin pada tahun-tahun mendatang jumlahnya menurun signifikan sehingga menimbulkan kerentanan.

Dalam Forum Sahabat Keluarga dari Kemendikbud yang pernah diwartakan Kompas.com, Minggu (20/1/2019), disebutkan di luar anggapan profesi yang tidak bergengsi, dua dari alasan hal itu terjadi berhubungan dengan persoalan finansial.

Bertani dianggap tidak memberikan jaminan finansial karena generasi muda melihat sebagian besar petani memiliki pendapatan yang rendah, rumah yang dimiliki sangat sederhana, dan gaya hidup seadanya.

Petani butuh solusi

Untuk keluar dari masalah itu, masyarakatnya sendiri harus sadar akan kebutuhan dan potensi.

Patut dicermati, Indonesia sebagai negara agraris seharusnya dapat menjadi peluang menjanjikan bagi petani kalau dilakukan dengan tepat. Apalagi, bidang pertanian merupakan salah satu sektor andalan penopang roda ekonomi nasional.

Sayangnya, ada beberapa permasalahan besar dan kendala bagi petani yang saat ini belum dapat terselesaikan.Seharusnya ini bisa ditanggulangi untuk membaca masa depan petani di Indonesia.

Sejumlah petani yang ada di kawasan Sidomulyo Tembesi, Batam, Kepulauan Riau memilih membabat habis tanaman sayur mereka sendiri.  Hal ini dilakukan mereka karena merasa kecewa dengan harga sayuran yang saat ini sangat anjlok dipasaran.KOMPAS.com/ HADI MAULANA Sejumlah petani yang ada di kawasan Sidomulyo Tembesi, Batam, Kepulauan Riau memilih membabat habis tanaman sayur mereka sendiri. Hal ini dilakukan mereka karena merasa kecewa dengan harga sayuran yang saat ini sangat anjlok dipasaran.

Jangankan mengupayakan pengembangan usaha agar kehidupannya sejahtera mereka, untuk mendapatkan akses sarana produksi usaha yang dijalani seperti benih, pupuk, dan pestisida pun masih kesulitan. Kebanyakan dari mereka tak punya cukup modal.

Untuk menjangkau pinjaman dari pihak ketiga seperti bank konvensional pun sulit, terutama bagi mereka yang kebanyakan berada di pelosok Indonesia.

Biasanya, institusi keuangan seperti bank mewajibkan banyak syarat, termasuk bukti pendapatan rutin yang kemudian membuat petani mundur.

Kalau pun ada, biasanya mereka mencari solusi lain yakni lewat bank keliling atau rentenir. Cara ini pada dasarnya tidak menjadi jalan keluar yang tepat karena ujung-ujungnya malah jadi beban yang tak kunjung selesai.

Agar profesi sebagai petani jadi bergengsi, hal-hal tadi harus segera diselesaikan. Akan tetapi, mengharapkan kesadaran masyarakat saja tidak cukup.

Untuk permasalahan vital seperti finansial, penanggulangannya juga membutuhkan banyak pihak untuk berperan serta.

Selain pemerintah, lembaga keuangan juga perlu ikut turun tangan. 

Saat ini, kalaupun para petani tak memiliki akses pada lembaga keuangan, setidaknya masih ada perusahaan financial technology yang dapat dijadikan jalan keluar.

PT Layanan Keuangan Berbagi (DanaRupiah), misalnya, akan meluncurkan program berbasis Productive Loan yang bertujuan membantu inklusi keuangan pada bidang pertanian. Rencananya peluncuran akan dilakukan pada akhir April 2019.

Peluncuran program Productive Loan ini juga menggandeng salah satu perusahaan distributor pupuk di Indonesia.

Adapun keunggulan dari program Productive Loan ini adalah sistem peer to peer (P2P) Lending yang memiliki bunga rendah sehingga memudahkan para petani dalam memperoleh akses pinjaman dengan cara yang praktis.

“Semoga para petani dapat (ikut) memanfaatkan kemajuan teknologi untuk (apa yang mereka kerjakan),” ujar CEO DanaRupiah Andy Zhang.

Ada dua jenis layanan yang akan petani dapatkan melalui program Productive Loan, yaitu petani akan mendapatkan kebutuhan sarana produksi dari perusahaan distributor pupuk dan mereka juga akan menerima danatunai.

Productive Loan memberikan jaminan kemudahan sumber dana dan sarana produksi yang efektif dan efisien bagi petani.  

“Melalui pinjaman produktif (seperti ini), kami harap DanaRupiah dapat mendukung usaha mereka,” tambah Andy.

Dengan begitu, petani dapat mengembangkan usahanya tanpa terhalang banyak persyaratan. Hal terpenting lainnya, lembaga ini terdaftar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Syarat, Cara, dan Modal untuk Buka Gerai Alfamart

Ini Syarat, Cara, dan Modal untuk Buka Gerai Alfamart

Smartpreneur
Rincian Harga Emas Antam Mulai dari 0,5 Gram hingga 1 Kg Terbaru

Rincian Harga Emas Antam Mulai dari 0,5 Gram hingga 1 Kg Terbaru

Whats New
Tol Layang Japek Ganti Nama, Ingat Lagi Nama Jalan Jokowi di Abu Dhabi

Tol Layang Japek Ganti Nama, Ingat Lagi Nama Jalan Jokowi di Abu Dhabi

Whats New
Bandara Pekon Serai Resmi Berubah Nama Jadi Muhammad Taufik Kiemas

Bandara Pekon Serai Resmi Berubah Nama Jadi Muhammad Taufik Kiemas

Whats New
Menhub: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Lompatan Teknologi Indonesia

Menhub: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Lompatan Teknologi Indonesia

Whats New
[POPULER MONEY] Modal dan Syarat Buka Indomaret | Seleksi CPNS 2021 Dibuka Mei

[POPULER MONEY] Modal dan Syarat Buka Indomaret | Seleksi CPNS 2021 Dibuka Mei

Whats New
Gempa Malang, Pertamina Pastikan Distribusi BBM dan Elpiji Aman

Gempa Malang, Pertamina Pastikan Distribusi BBM dan Elpiji Aman

Whats New
Investor Terbesar Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dirikan Kantor Pusat di Indonesia

Investor Terbesar Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dirikan Kantor Pusat di Indonesia

Whats New
Tol Layang Japek Akan Tutup Sementara untuk Ganti Nama Jadi Sheikh MBZ

Tol Layang Japek Akan Tutup Sementara untuk Ganti Nama Jadi Sheikh MBZ

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Brezel, Roti Terpopuler dari Jerman | Japanese Milk Bread, Roti Unyu Menggiurkan

[KURASI KOMPASIANA] Brezel, Roti Terpopuler dari Jerman | Japanese Milk Bread, Roti Unyu Menggiurkan

Rilis
Meski Kinerja Keuangan Merugi Pada 2020, PGN Masih dalam Kondisi Baik

Meski Kinerja Keuangan Merugi Pada 2020, PGN Masih dalam Kondisi Baik

Whats New
Di Tengah Pandemi, PGN Sukses Tuntaskan Penugasan dari Pemerintah

Di Tengah Pandemi, PGN Sukses Tuntaskan Penugasan dari Pemerintah

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Susah Move On dari Mantan? Belajarlah dari Petugas SPBU | 5 Cara Move On dari Mantan agar Prosesnya Lancar Luncur

[KURASI KOMPASIANA] Susah Move On dari Mantan? Belajarlah dari Petugas SPBU | 5 Cara Move On dari Mantan agar Prosesnya Lancar Luncur

Rilis
Kadin Dorong Peran Asosiasi dalam Pemulihan Ekonomi Nasional Pasca Covid-19

Kadin Dorong Peran Asosiasi dalam Pemulihan Ekonomi Nasional Pasca Covid-19

Whats New
Sepekan Terakhir, IHSG Menguat Tipis 0,98 Persen

Sepekan Terakhir, IHSG Menguat Tipis 0,98 Persen

Whats New
komentar di artikel lainnya