Ini Jurus Nadiem Makarim supaya Go-Jek Terus Menang

Kompas.com - 16/04/2019, 07:43 WIB
CEO Go-Jek Nadiem Makarim dalam acara peresmian ekspansi  Go-Jek ke Hanoi, ibukota Vietnam, lewat brand Go-Viet pada Rabu (12/9/2018). Oik Yusuf/KOMPAS.comCEO Go-Jek Nadiem Makarim dalam acara peresmian ekspansi Go-Jek ke Hanoi, ibukota Vietnam, lewat brand Go-Viet pada Rabu (12/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Founder dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim mengatakan, saat ini Go-Jek sudah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, jingle "Go-Jekin Aja" sudah menjadi kosa kata sehari-hari.

Berdasarkan data dari laporan App Annie bertajuk “The State of Mobile 2019”, menyatakan bahwa Go-Jek merupakan aplikasi ride-sharing yang paling banyak digunakan di Indonesia dan merupakan aplikasi on demand dengan jumlah pengguna aktif bulanan terbanyak sepanjang 2018.

Sementara menurut riset lembaga independen gobal, YouGov, Go-Jek menempati peringkat pertama atau top of mind di antara konsumen Indonesia saat ditanya merek aplikasi on-demand apa yang akan mereka gunakan. 

Go-Jek juga menduduki posisi nomor satu pada kategori Brand Impression, Nilai, Kualitas, Kepuasan, dan Rekomendasi di sektor on-demand, termasuk transportasi dan pesan antar makanan.

Baca juga: Terharunya CEO Go-Jek, Gojekin Aja Jadi Kosa Kata Sehari-hari

Nadiem mengatakan, hal ini disebabkan aplikasi Go-Jek sangat menjawab kebutuhan masyarakat.

Menurut dia, pemahaman mendalam mengenai kebutuhan pasar dan karakter konsumen, atau dikenal dengan istilah local insights, serta kemampuan untuk menerjemahkannya ke dalam inovasi teknologi, menjadi salah satu strategi jitu Go-Jek untuk terus memimpin pasar di Indonesia.

"Cara kami untuk terus menang di Indonesia adalah memahami apa yang pengguna kami perlukan dan mencarikan solusinya lewat teknologi," ujar Nadiem dalam keterangan tertulis, Selasa (16/4/2019).

Nadiem mengatakan, perekonomian Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Artinya, dengan menjadi pemenang di Indonesia, maka juga menang di Asia Tenggara. Nadiem menambahkan, sejak awal berdiri, visi Go-Jek adalah menggunakan teknologi untuk memberikan solusi atas tantangan sehari-hari yang dihadapi masyarakat Indonesia. Hanya dalam waktu dua tahun, Go-Jek mencatatkan pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) sebesar 13,5 kali lipat, mencapai 9 miliar dollar AS pada akhir 2018.

"Menjadi yang paling besar itu penting, tapi bukan yang paling utama. Yang paling penting adalah dampak nyata yang GOJEK bawa bagi masyarakat luas," kata Nadiem.

Dalam siaran pers, disebutkan bahwa riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyatakan, dampak Go-Jek kepada perekonomian Indonesia mencapai Rp 44,2 triliun di tahun 2018. Angka ini naik tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

Ekosistem Go-Jek di Indonesia dijalankan 1,7 juta mitra driver, 300.000 merchant Go-Food yang lebih dari 80 persennya merupakan industri UMKM, dan 60.000 penyedia layanan Go-Life.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X