Sekarang Waktu Terbaik untuk Beli Rumah, Apa Sebabnya?

Kompas.com - 17/04/2019, 18:13 WIB
Ilustrasi rumahKementerian PUPR Ilustrasi rumah

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini dianggap sebagai saat yang terbaik untuk membeli rumah. Pasalnya, pemerintah telah menelurkan sejumlah kebijakan yang memperluas akses masyarakat untuk membeli rumah, termasuk dengan skema kredit pemilikan rumah (KPR).

Beberapa kebijakan tersebut adalah pendirian PT Sarana Multi Infrastruktur, pendirian PT Sarana Multigriya Finansial, pemberlakuan BI 7 Days Repo Rate, dan penyempurnaan ketentuan Loan to Value untuk kredit properti melalui berbagai peraturan Bank Indonesia (BI).

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menyatakan, berbagai kebijakan pemerintah tersebut menunjukkan sesungguhnya saat ini adalah kondisi termudah untuk membeli rumah. Selama ini kendala nomor 1 untuk membeli rumah adalah uang muka alias down payment ( DP).

Baca juga: Ini 10 Kota Termahal di Dunia untuk Beli Rumah

Dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut, DP sekarang menjadi lebih fleksibel sehingga kendala DP seharusnya teratasi.

“Memang ada peningkatan dari sisi suku bunga. Namun berdasarkan data, tingkat suku bunga saat ini tidak lebih tinggi dari tahun 2015. Oleh karena itu, sekarang adalah saat paling mudah untuk membeli rumah," ujar Ike dalam pernyataannya, Rabu (17/4/2019).

Kondisi ini juga sesuai dengan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2019, di mana konsumen properti masih optimistis dengan iklim pasar properti nasional. Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 65 persen responden mengaku puas dengan kondisi pasar properti Indonesia.

Baca juga: Biaya Bangun Rumah Mahal? Ini Cara Hemat Bangun Rumah Idaman

Kepuasan terhadap iklim properti ini mayoritas didasarkan pada faktor kenaikan harga properti yang stabil serta apresiasi terhadap kenaikan harga properti jangka panjang. Kedua faktor ini diamini oleh 63 persen responden.

Sementara itu, 15 persen responden yang merasa tidak puas, mengungkapkan faktor kenaikan harga properti sebagai penyebabnya. Alasan lainnya adalah uang muka yang terlalu tinggi.

Ike menjelaskan, faktor kenaikan harga memang selalu dipandang dari dua sisi.

Bagi mereka yang optimistis, mereka melihatnya sebagai peluang investasi di masa depan, sementara mereka yang pesimistis, ini disebabkan keraguan terhadap kemampuan finansialnya. Mereka yang belum yakin dengan kemampuan kemungkinan adalah mereka yang masih awam atau kurang informasi.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X