Bloomberg: Venezuela Jadi Negara Paling Sengsara di Dunia

Kompas.com - 18/04/2019, 10:15 WIB
Warga mengisi tong mereka dengan air di kawasan Petare dekat Caracas pada 1 April 2019. Pemadaman listrik yang terjadi selama satu bulan terakhir membuat pasokan air ke rumah warga terputus. AFP/FEDERICO PARRAWarga mengisi tong mereka dengan air di kawasan Petare dekat Caracas pada 1 April 2019. Pemadaman listrik yang terjadi selama satu bulan terakhir membuat pasokan air ke rumah warga terputus.

KOMPAS.com - Proyeksi inflasi di Venezuela menembus angka yang mencengangkan tahun ini, yaitu mencapai 8 juta persen dan membuat Venezuela sebagai negara dengan kondisi ekonomi paling menyedihkan di dunia.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (18/4/2019) negara Amerika latin tersebut berada di peringkat teratas dalam Indeks Kesengsaraan Bloomberg (Bloomberg's Misery Index) yang melakukan perhitungan terhadap tingkat pengangguran dan inflasi pada 62 negara dalam lima tahun berturut-turut.

Venezuela tahun ini menjadi satu-satunya negara yang harus bertarung melawan tingginya inflasi sekaligus tingkat pengangguran yang tinggi.

Sementara, sebagian besar peembuat kebijakan di negara lain menghadapi tantangan yang berbeda, yaitu komibinasi rumit dari inflasi yang cenderung stabil dan pengangguran yang cenderung lebih rendah yang justru memperumit proyeksi terhadap kondisi kesehatan perekonomian serta respon yang dirasa sesuai.

Sementara, Thailand lagi-lagi meduduki posisi sebagai negara yang paling tidak sengsara dalam indeks tersebut, meski pemerintah memiliki cara unik dalam menghitung angka pengangguran dan Swiss berada di posisi berikutnya dengan Singapura berada pada posisi ketiga.

Adapun, Amerika Serikat turun enam peringkat dari posisi sebelumnya menjadi peringkat ke-13 paling tidak sengsara, dan Inggris naik empat peringkat ke posisi 16.

Ideks ini bergantung pada konsep kuno yang menyatakan inflasi rendah dan pengangguran adalah gambaran umum mengenai perasaan penduduk suatu negara terkait perekonomian. Skor tahun ini didasarkan pada survei ekonom Bloomberg, sementara tahun-tahun sebelumnya didasarkan pada data aktual.

Meskipun terkadang, angka rendah tak melulu menunjukkan hal baik, misalnya, harga yang rendah terus-menerus bisa menjadi pertanda permintaan yang juga menurun, dan pengangguran yang terlalu rendah bisa membelenggu pekerja yang ingin beralih ke pekerjaan yang lebih baik.

Pemerintah Venezuela belum menerbitkan data ekonomi sejak 2016. Perkiraan analis berbeda secara substansial dari Bloomberg's Cafe Con Leche Index (tingkat inflasi yang didasarkan pada harga segelas kopi), yang memperkirakan tingkat inflasi saat ini 219,900 persen.

Tren pertumbuhan harga dalam indeks kesengsaraan adalah perubahan dari tahun lalu, ketika kekhawatiran inflasi semakin meningkat dan meningkatkan skor bagi banyak negara. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg melihat hampir setengah dari 62 ekonomi dengan tingkat inflasi lebih rendah daripada tahun 2018, sementara mayoritas diperkirakan akan melihat penurunan pengangguran.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Bloomberg
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X