Kompas.com - 24/04/2019, 19:26 WIB
Ilustrasi uang KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi uang

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan adanya penurunan tren kenaikan hunga simpanan.

Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata bunga deposito rupiah (rata-rata bergerak 22 hari) pada bank benchmark LPS mencapai 6,17 persen pada akhir Maret 2019, turun 1 bps dari posisi akhir Februari. Sementara, suku bunga minimum stabil di level 5,03 persen dan suku bunga maksimal turun 4 bps ke posisi 7,30 persen. 

Adapun bunga deposito valas pada periode yang sama cenderung naik secara terbatas.

"Tren kenaikan bunga simpanan terpantau sudah melandai dan menunjukkan kecenderungan peaking out," ujar Direktur Group Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/4/2019).

Baca juga: LPS Tidak Ubah Tingkat Bunga Penjaminan Periode Januari-Mei 2019

Doddy pun menyatakan tren kenaikan lanjutan pada bunga simpanan diperkirakan telah berakhir seiring berakhirnya kenaikan bunga acuan. Kenaikan terbatas diperkirakan lebih bersifat penyesuaian dan berpotensi turun sehingga mengurangi tekanan kompetisi antar bank.

"Signal penurunan mulai terpantau pada beberapa bank khususnya untuk special rate, sejalan dengan upaya bank untuk menjaga level margin agak tidak turun lebih jauh," ujar Doddy

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di sisi lain,bunga simpanan valas akan lebih stabil, mempertimbangkan LIBOR yang tidak yang tidak banyak menunjukkan kenaikan serta kondisi nilai tukar yang lebih stabil.

Baca juga: LPS Kembali Naikkan Tingkat Bunga Penjaminan 25 Bps

Adapun kredit perbankan pada Januari 2019 tumbuh 11,97 persen (yoy), sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,39 persen. Gap pertumbuhan kredit dan DPK yang cukup tinggi di awal tahun berdampak pada LDR perbankan yang bertahan di level 93,23 persen.

"Gap pertumbuhan ini meningkatkan risiko likuiditas pada beberapa kelompok bank akibat kompetisi bunga," ujar Doddy.

Pertumbuhan kredit pada awal tahun ini masih dominan disumbangkan oleh kredit investasi dan modal kerja, memanfaatkan momentum siklus investasi sebelum Pemilu.

Baca juga: Genjot Penyaluran Kredit Perbankan, BI Longgarkan Aturan RIM

Doddy menjelaskan, pertumbuhan kredit yang lebih tinggi masih dapat berlanjut, meski lajunya diperkirakan sedikit melambat di tengah keterbatasan pertumbuhan DPK dan periode Pemilu yang berdampak pada permintaan kredit korporasi.

Sementara itu, pertumbuhan DPK diyakini akan tumbuh lebih baik sebagai efek dari siklus kredit serta potensi perbaikan arus dana asing dan belanja pemerintah.

"Ekspansi di sisi moneter dan fiskal dibutuhkan untuk memacu pertumbuhan DPK ke level yang lebih tinggi. Pada tahun 2019, kredit dan DPK diperkirakan tumbuh 12 persen dan 8,5 persen," ujar Doddy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.