Laba BTPN Pasca Merger Turun, Ini Sebabnya

Kompas.com - 25/04/2019, 21:29 WIB
CEO Bank BTPN Ongki Wanadjati (kiri), hadir dalam kegiatan CEO Wisdom di Redaksi Kompas, Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Jumat (15/3/2019). KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZESCEO Bank BTPN Ongki Wanadjati (kiri), hadir dalam kegiatan CEO Wisdom di Redaksi Kompas, Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank BTPN Tbk  (BTPN) meraih laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) sebesar Rp 507 miliar pada kuartal I-2019. Angka ini mengalami penurunan 5 persen dibandingkan tahun lalu. Sedangkan jika tidak memperhitungkan pajak, laba mencapai Rp 801 miliar, hampir sama dengan tahun lalu.

“Hal ini terutama disebabkan oleh tingginya biaya dana (cost of fund), sedangkan kapasitas untuk mengompensasi peningkatan biaya dana ke para debitor terbatas,” ucap Direktur Utama Bank BTPN Ongki Wanadjati Dana di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Dia juga memberikan catatan bahwa  bank hasil merger antara PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI) ini sejatinya baru bekerja efektif dua bulan, yakni Februari dan Maret.

Meski relatif singkat sebutnya, roda organisasi tetap bekerja optimal sehingga dapat mempertahankan laju pertumbuhan. Hal ini menunjukkan penggabungan usaha berlangsung lancar dan sesuai ekspektasi.

Baca juga: Cara Meraih Kesuksesan bagi Milenial ala CEO BTPN

“Bagi kami, tahun ini merupakan tahun konsolidasi sebagai lanjutan dari proses merger yang sudah kami tuntaskan pada awal Februari lalu. Periode ini tentu sangat menantang dan kami bersyukur dapat mengawali fase integrasi dengan cukup baik, yang tercermin pada pencapaian kinerja kuartal I-2019,” ucap Ongki.

Selain itu, faktor lainnya adalah laba satu bulan dari SMBCI yang tidak bisa dikonsolidasikan ke bank hasil merger. "Ya hukumnya begitu," tambahnya.

Meski demikian, Ongki menyatakan secara umum kinerja BTPN pada kuartal I-2019 ini positif. Hal ini seiring dengan kenaikan nilai aset, memiliki permodalan yang solid, dan mulai melayani segmen bisnis yang lebih luas.

Hingga akhir Maret 2019, aset Bank BTPN mencapai Rp 192,2 triliun, meningkat 101 persen dibandingkan posisi yang sama tahun lalu (year on year/yoy) senilai Rp 95,8 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit naik 114 persen menjadi Rp 139,84 triliun.

"Perlu digarisbawahi, nilai aset dan kredit ini merupakan gabungan dari neraca Bank BTPN dan SMBCI, terhitung sejak efektif merger pada 1 Februari 2019," tambah dia.

Pertumbuhan kredit BTPN ditopang oleh segmen korporasi, usaha kecil dan menengah (small medium enterprises/SME), pembiayaan konsumen, dan pembiayaan prasejahtera produktif (productive poor) melalui anak usaha, BTPN Syariah.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X