"Jadi Anak Muda Itu Berperan, Bukan Baperan..."

Kompas.com - 27/04/2019, 18:23 WIB
IlustrasiThinsktock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagian milenial pasti pernah merasakan memilih jurusan kuliah atau pekerjaan yang bertentangan dengan keinginan orang tua. Banyak diantaranya yang mengikuti kata orang tua meski tidak sesuai dengan keahlian maupun passion-nya.

Untuk itu, hendaknya milenial melakukan beberapa langkah agar pemilihan jurusan kuliah atau pekerjaan bisa berdampak baik bagi orang tua maupun diri sendiri.

Menurut CEO Topkarir Indonesia Bayu J. Wirjoatmodjo, kondisi masyarakat Indonesia memang terbiasa dengan sebuah budaya untuk selalu menghormati orang tua. Tapi, bukan berarti orang tua tidak bisa diajak berkomunikasi.

" Milenial harus mengajak orang tuanya untuk berdiskusi soal masa depannya. Bukan berdiskusi dan bersikeras siapa yang harus mengalah, tapi milenial harus menunjukkannya dengan data dan contoh nyata," ucap Bayu Wirjoatmodjo di Jakarta, Sabtu (27/4/2019).

Baca juga: Milenial Wajib Simak 4 Saran Keuangan Ini

Bayu mengatakan, bila tidak menggunakan data dan contoh yang relevan, wajar jika orang tua membenarkan perintahnya. Apalagi, orang tua merasa hidup lebih lama dibandingkan anaknya.

Tapi, sebelum mengajak berdiskusi, milenial juga harus memetakan langkah ke depan dan bertanya pada diri-sendiri apakah langkah yang akan diambil sudah tepat atau belum.

"Kita harus lihat terlebih dahulu apa minat dan bakat kita yang sesungguhnya. Kalau sudah sesuai dengan minat dan bakat, barulah kemudian milenial mampu memilih yang tepat," tandas Bayu.

CO Founder Aktivis Milenial Okky Nur Irmanita menambahkan, milenial juga perlu melihat perkembangan pekerjaan ke depan mengingat dunia semakin cepat berubah. Bisa jadi, pekerjaan-pekerjaan saat ini tak lagi diminati di masa depan.

"Kaum milenial harus juga lihat perubahan dunia ke depan. Apakah pekerjaan yang saat ini relevan masih relevan untuk masa depan? Rencanakan itu secara matang-matang," tutur Okky Nur Irmanita di Jakarta, Sabtu (27/4/2019).

Namun, bukan tidak mungkin pekerjaan yang saat ini dianggap sebelah mata mampu mendominasi dunia pekerjaan di era mendatang.

"Saat ini banyak banget yang bilang kalau sejarawan enggak laku. Tapi sejarawan itu sekalinya dapat pekerjaan, dikontrak dengan natural geography. Itu enggak sembarangan. Bisa jadi kedepannya pun banyak bidang yang berpeluang menghadapi hal itu," papar Bayu.

Intinya, apapun pilihan milenial dalam dunia perkuliahan dan pekerjaan harus sesuai dengan beberapa pertimbangan di atas. Untuk mencapai hal tersebut, milenial perlu berperan aktif di dalam ekosistem dunia.

"Jadi anak muda itu berperan, bukan baperan," tandas Bayu.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X