Mau Beli Rumah atau Apartemen? Pahami Hal Ini

Kompas.com - 30/04/2019, 09:29 WIB
Ilustrasi rumah ApartementtherapyIlustrasi rumah

JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak kurang dari 80 persen, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) meneriman laporan konsumen (masyarakat) terkait transaksi Kredit Pemilikan Rumah ( KPR) yang bermasalah. Angka laporan ini dari tahun ke tahun terus meningkat.

Konsumen merasa dirugikan dan tak mendapat haknya yang dasarnya jelas dan dilindungi oleh undang-undang.

Terlepas dari itu semua, apa yang harus diketahui serta harus dipahami publik sebagai konsumen sebelum membeli rumah atau apartemen baik skama KPR atau lainnya? Sehingga tidak jadi korban rumah bodong.

Menurut pengamat properti, Aldi Garibaldi, hingga kini permintaan rumah masih paling tertinggi jika dibandingkan jenis properti atau real estate lain. Apakah jenis kantor, gudang, retail, atau lainnya.

Baca juga: Enam Bulan ke Depan, Generasi Milenial Paling Optimis Beli Rumah

Ada hal yang harus diketahui para calon pembeli rumah agar tak menjadi korban penipuan dari developer. Ini di luar harganya maupun spesifikasi hunian.

"Tahu dulu siapa developer-nya dan kemampuan mereka menyelesaikan proyek," kata Aldi kepada Kompas.com, Selasa (30/4/2019).

Aldi menjelaskan, pada proses pembangunan real estate memiliki risiko masing-masing antara rumah dan apartemen. Karena itu, pembeli atau konsumen harus mengetahui betul terkait hal ini agar menjadi pertimbangan.

"Apartmen mempunyai inherent risk (risiko bawaan) yang tinggi karena kalau pembangungan berhenti maka bisa dipastikan semua unit tidak bisa di-hand over. Landed housing  (rumah tapak) resiko lebih rendah karena saat pasar lesu, developer tinggal berhenti membangun untuk rumah yang belom dipesan. Sementara yang sudah dipesan bisa tetap handover," ujarnya.

Menurut dia, korban jual beli apartemen bodong selama ini terbilang memiliki minim pengetahuan atau literasi. Belum begitu seksama dan cermati memperhatikan segalanya, apakah legalitas, syarat atau ketentuan lainnya.

"Bisa dikatakan iya (minim leterasi), pembeli banyak yang tidak mengerti mengenai perbedaan antara Hak Guna Bangunan dan Hak Milik," ungkap Senior Associate Director Colliers International Indonesia ini. 

Baca juga: Mau Beli Rumah? Ini Bedanya KPR Konvensional dan Syariah

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X