BI Sebut Tiga Hal Ini Akan Jadi Tantangan Stabilitas Sistem Keuangan

Kompas.com - 03/05/2019, 13:03 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019). Dok. ISEIGubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia ( BI) Perry Warjiyo mengatakan, ketidakpastian global masih akan berlanjut di tahun ini. Sistem keuangan Indonesia masih akan menghadapi berbagai tantangan dan risiko yang harus dicari penyelesaiannya.

Perry menyebutkan setidaknya ada tiga jenis risiko yang akan mempengaruhi stabilitas tersebut.

"Tantangannya, bagaimana langkah-langkah kebijakan moneter masih in line dengan upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dengan baik secara mikro maupun makro," ujar Perry di kompleks BI, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Baca juga: Kuartal IV-2018, Stabilitas Sistem Keuangan dalam Kondisi Normal

Oleh karena itu, kata Perry, BI harus merumuskan respon yang tepat untuk memitigasi risiko sistem keuangan.

Adapun tiga risiko yang dimaksud adalah, pertama, risiko cross section. Dalam menangani risiko ini, tantangannya adalah menjaga stabilitas pengembalian modal asing tidak menimbulkan risiko kekeringan likuiditas.

Kedua, yakni risiko pasar, yakni bagaimana agar kenaikan suku bunga bank sentral tidak berdampak pada suku bunga kredit.

"Sulit melakukan dengan dasar-dasar teorikal kampus. Dengan practical knowledge dan experience, policy maker can make otherwise. Tidak hanya dari stabilitas nilai tukar, tapi juga me-manage risiko," ucap Perry.

Baca juga: Ini Potensi Risiko Ekonomi yang Diwaspadai KSSK pada 2019

Yang terakhir adalah risiko kredit. Hal ini juga harus diatur dengan baik karena meliputi berbagai aspek.

Di satu sisi, ingin mendorong ekspor. Di sisi lain juga bagaimana mendorong permintaan domestik.

Ibarat jamu, kata Perry, bagaimana kebijakan suku bunga moneter yang menjadi jamu pahit tidak berdampak pada stabilitas sistem keuangan. Sebagai penawar, BI mengeluarkan "jamu manis" berupa kebijakan makro prudent.

"Bagaimana menepuh stabilitas pada saat yang sama mendorong kredit pembiayaan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi," jelas Perry.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X