Haruskah Harga Tiket Pesawat Diturunkan?

Kompas.com - 04/05/2019, 16:53 WIB
Ilustrasi: Sejumlah maskapai nasional terparkir di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan Kalimantan Timur KOMPAS.com/ Bambang P. JatmikoIlustrasi: Sejumlah maskapai nasional terparkir di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan Kalimantan Timur

KOMPAS.com - Pada 2 Mei 2019 lalu Badan Pusat Statistik merilis jumlah penumpang pesawat rute domestik Indonesia pada periode Januari- Maret 2019 turun 17,76 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada periode tahun ini, jumlah penumpang sebanyak 18,3 juta orang. sedangkan pada periode tahun lalu sebanyak 22,2 juta orang. 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan penumpang domestik ini salah satu permasalahannya adalah harga tiket pesawat yang mahal yang sudah terjadi sejak akhir tahun lalu hingga saat ini.

Menurutnya kenaikan harga tiket pesawat ini juga menyebabkan tingkat okupansi (keterisian hotel) hotel berbintang di Indonesia pada periode yang sama turun 4,21 persen yaitu dari 57,1 persen tahun lalu menjadi 52,89 persen tahun ini (Kompas.com, Kamis 2/5/2019).

Dari laman yang sama, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution juga mengatakan bahwa harga tiket pesawat yang tinggi juga ikut menjadi salah satu penyebab inflasi di bulan April 2019 yang mencapai 0,44 persen. Tiket pesawat melengkapi penyebab-penyebab alami seperti harga bawang putih, bawang merah, cabai merah, ayam dan telur.

Kementerian Perhubungan selaku kementerian yang membawahi penerbangan nasional sudah angkat tangan. Menhub Budi Karya Sumadi bahkan mempersilahkan Menko Perekonomian dan Meneg BUMN untuk turut mengurai permasalahannya.

Menurutnya, salah satu permasalahan ada di maskapai BUMN yaitu Garuda Indonesia yang menjadi price leader dan sampai saat ini masih tidak mau menurunkan harga tiketnya.

Budi beralasan tidak mau mencampuri terlalu dalam urusan bisnis maskapai penerbangan. Bahkan Budi juga berencana melakukan konsultasi ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait kewenangannya sebagai regulator melakukan revisi tarif batas atas tiket pesawat. (Kompas.com, 2/5/2019).

Menurunkan Harga Tiket?

Menurunkan harga tiket pesawat saat ini dengan meminta maskapai secara sukarela tentu saja sangat kontraproduktif. Hal ini karena posisi keuangan maskapai dari sisi operasional yang masih sangat merah. Indikasinya bisa dilihat dari laporan keuangan 2018 dari Garuda Group.

Selama tahun 2018, Garuda disebutkan memperoleh laba US$ 809,85 ribu atau sekitar Rp11,33 miliar (kurs Rp 14.000,-). Padahal tahun sebelumnya maskapai ini rugi hingga sebesar US$216,58 juta. Dan hingga kuartal III tahun 2018, maskapai ini sebenarnya juga masih merugi sekitar US$ 114,08 juta.

Sayangnya laba tahun 2018 tersebut dikarenakan pendapatan dari lain-lain (ancillary revenue) yaitu berupa pendapatan dari kerjasama dengan pihak ketiga ( Mahata Aero Teknologi) sebesar US$ 239.940.000. Pendapatan itu sebenarnya juga masih berupa piutang. Dan jika piutang tersebut tidak dicatatkan sebagai pendapatan, Garuda sesungguhnya masih merugi secara operasional hingga US$ 244,96 juta.

Maskapai lain sepertinya mengalami nasib tak jauh beda. Sriwijaya Air akhirnya merapat ke Garuda Group karena keberatan membayar hutangnya. Sedangkan Lion Group di hadapan rapat dengar pendapat dengan anggota Komisi V DPR RI juga sudah mengakui prediksi bisnisnya meleset sehingga harus merevisi pola bisnis dengan mengadakan bagasi berbayar dan menetapkan harga tiket tinggi untuk menutupi defisit keuangannya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X