Boeing Akui Mengetahui Ada Masalah di 737 Max Setahun Sebelum Kecelakaan

Kompas.com - 07/05/2019, 07:10 WIB
Ekor dan sayap pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEAREkor dan sayap pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

NEW YORK, KOMPAS.com - Produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, mengaku telah mengetahui masalah terkait 737 Max satu tahun sebelum jenis pesawat tersebut terlibat dalam dua kecelakaan besar, yaitu kecelakaan maskapai Lion Air dan Ethiopian Air.

Akan tetapi, seperti dikutip dari BBC pada Selasa (7/5/2019), Boeing tidak melakukan penanggulangan apapun terkait hal tersebut.

Perusahaan menyatakan secara tidak sengaja membuat fitur alarm pada armadanya dari standar untuk semua unit menjadi opsional. Namun mereka tetap bersikeras hal tersebut tidak membahayakan keselamatan penerbangan.

Seluruh pesawat jenis 737 Max sendiri telah dikandangkan sejak Maret 2019 lalu, setelah kecelakaan yang terjadi pada Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 awak pesawat dan penumpang. Sementara lima bulan sebelumnya, sebanyak 189 orang tewas pada kecelakaan yang melibatkan jenis pesawat serupa milik maskapai Lion Air.

Baca juga: Rusdi Kirana: Boeing Anggap Saya seperti Celengan

Secara keseluruhan, saat ini setidaknya terdapat 387 armada pesawat jenis Boeing 737 Max yang dikandangkan di seluruh dunia.

Fitur yang dipermasalahkan merupakan alarm yang disebut Angle of Attack (AOA) Disagree. Fitur ini dirancang untuk memberi tahu pilot ketika terdapat dua sensor berbeda yang melaporkan data yang saling bertentangan.

Boeing menyebut, fitur tersebut direncanakan untuk menjadi standar semua unit. Namun hal itu tidak disadari hingga saat pengiriman pesawat, bahwa ternyata fitur ini tersedia jika maskapai membeli indikator yang bersifat opsional.

Boeing pun mengatakan akan mengatasi masalah tersebut dalam pembaruan peranti lunaknya, juga menegaskan masalah perangkat lunak tersebut tidak memberikan dampak buruk pada keselamatan ataupun pengoperasian pesawat.

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) pun mengatakan kepada Reuters bahwa Boeing belum memberi tahu masalah perangkat lunak itu sampai November 2018, sebulan setelah Lion Air jatuh.

FAA juga mengatakan masalah tersebut "berisiko rendah", namun juga mengatakan Boeing seharusnya bisa memberikan penjelasan untuk menghilangkan kemungkinan kebingungan oleh pilot yang menerbangan armadanya dengan memberi tahu sebelumnya.

Adapun udut terbang pesawat telah diidentifikasi sebagai faktor dalam dua kecelakaan yang melibatkan dua pesawat produksi Boeing.

Boeing mengatakan bahwa dalam kedua kecelakaan fatal itu, data AOA yang keliru diumpankan ke Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) dari pesawat, sebuah sistem anti-stall yang telah berada di bawah pengawasan sejak kecelakaan itu.

Saat ini, Boeing sedang mengembangkan perangkat lunak baru untuk MCASnya.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber BBC
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X