BI Disarankan Tahan Suku Bunga di Level 6 Persen

Kompas.com - 15/05/2019, 17:03 WIB
Logo Bank Indonesia (BI).KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Logo Bank Indonesia (BI).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) bakal mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (16/5/2019) esok hari.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (KOMPAS100: BBNI) Kiryanto mengatakan BI masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6 persen. Terdapat beberapa pertimbangan yang membuat BI akan menahan suku bunga, baik eksternal maupun internal.

Dari faktor eksternal, diyakini arah gerak suku bunga acuan fed fund rate (FFR) atau suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve ( The Fed) semakin longgar atau dovish.

Baca juga: Suku Bunga Acuan Belum Naik atau Turun, BI Diminta Lihat Kondisi Secara Komprehensif

The Fed tidak lagi agresif menaikkan FFR, bahkan ada potensi FFR akan diturunkan 25 bps dalam jangka pendek ke level 2,0-2,25 persen karena inflasi AS yang rendah di bawah 2 persen atau tepatnya 1,7 persen.

"Yang berarti di bawah ekspektasi dan juga sudah ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS di bawah 3 persen sesuai perkiraan IMF per April lalu," ujar Kiryanto dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (15/5/2019).

Ryan mengatakan, The Fed hanya memiliki dua pilihan, antara menahan FFR di level saat ini yaitu 2,25 persen - 2,5 persen atau menurunkan FFR sekali sebesar 25 bps menjadi 2 persen -2,25 persen. Telah banyak desakan ke Gubernur The Fed Jerome Powell agar menurunkan suku bunga acuan.

"Sejumlah bank sentral di dunia juga sudah menurunkan suku bunga acuannya (BOJ, PBOC, BNM, RBA, dan ECB)," jelas dia.

Baca juga: Apindo Minta BI Turunkan Suku Bunga Usai Pengumuman Pilpres

Dari faktor internal, BI dan pemerintah memiliki stance atau arah kebijakan yang sama, yakni memprioritaskan stabilitas sambil menjaga momentum pertumbuhan. Sehingga pilihan paling rasional dan strategis adalah BI tetap menahan suku bunga acuan di level 6 persen.

Keputusan ini bisa membantu penguatan daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal seperti perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, risiko geopolitik, perlambatan ekonomi global, serta masih melemahnya harga komoditas dan kebuntuan solusi Brexit.

Ditahannya suku bunga juga dianggap bisa menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya tekanan terhadap rupiah pasca rilis BPS yg mencatat defisit neraca perdagangan April 2019 yang sebesar 2,5 miliar dollar AS (rekor defisit selama ini) dan mempertahankan daya tarik investor asing untuk memegang aset dalam rupiah karena lebih atraktif.

Baca juga: Tahan Suku Bunga 5 Kali Berturut-turut, BI Terapkan Kebijakan Akomodatif

Selain itu, suku bunga yang berada di level tersebut juga membantu masuknya dana asing atau capital inflows yang dapat menguatkan kurs rupiah, IHSG di BEI serta memperkecil defisit transaksi berjalan (CAD) yg berkisar 2,6 persen dari PDB.

"Momentum pertumbuhan pun masih bisa dikelola dgn baik. Ditahannya BI7DRRR akan direspon positif kalangan perbankan, sektor riil dan investor portofolio karena level 6 persen ini dinilai akomodatif," ujar Kiryanto.

BI pun dianjurkan memperkuat relaksasi kebijakan makroprudensial seperti LTV, RIM dan PLM dan kebijakan lanjutannya memperkuat daya tahan perekonomian nasional.




Close Ads X