BI: Perekonomian Global Lesu, Konsumsi Domestik Harus Digenjot

Kompas.com - 19/05/2019, 10:00 WIB
Dari kiri ke kanan: Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko, dan Direktur Eksekutif Departemen kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjono di Bandung, Sabtu (18/5/2019)KOMPAS.com/ Bambang P. Jatmiko Dari kiri ke kanan: Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko, dan Direktur Eksekutif Departemen kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjono di Bandung, Sabtu (18/5/2019)

BANDUNG, KOMPAS.com - Bank Indonesia menyatakan konsumsi domestik menjadi kunci agar perekonomian nasional tetap dinamis.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko menyatakan saat ini ekspor kurang bisa diandalkan karena pasar di luar negeri juga tengah mengalami kelesuan. 

Dari 5 negara yang menjadi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global, tercatat hanya India yang masih bergeliat. Selebihnya seperti China dan Jepang dihadapkan pada kondisi yang kurang menguntungkan. Apalagi, perang dagang juga berdampak luas terhadap perekonomian berbagai negara.

"Kuncinya adalah domestic spending harus digenjot. Kalaupun ekspor, harus yang selektif, yaitu produk-produk dari Indonesia yang punya competitiveness di luar negeri," kata Onny dalam acara Focus Group Discussion bersama medis, Sabtu (19/5/2019).

Konsumsi domestik akan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, meskipun pengaruhnya tidak sebesar eksor dan investasi langsung.

Terkait dengan hal ini, Onny menyatakan Bank Indonesia akan terus memberi dorongan agar ekoonomi nasional terus bergeliat.

Ekspor Masih Lesu

Sebagaimana diketahui, saat ini ekspor nasional mengalami perlambatan. Hal itu terlihat dari defisit neraca perdagangan yang mencapai 2,5 miliar dollar AS atau setara Rp 36 triliun. Sementara pada Maret lalu, neraca perdagangan mencatatkan surplus 0,54 miliar dollar AS.

Indonesia mencatatkan defisit dalam perdagangan dengan sejumah negara seperti China, Thailand, dan Jepang.

Di sisi lain  Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan beberapa negara, seperti Amerika Serikat, India, serta Belanda. Sementara untuk China, Thailand, juga Jepang Indonesia mencatatkan defisit perdagangan.




Close Ads X