Soal Perang Promo Ojek Online, Ini Kata Para Pengemudi

Kompas.com - 21/05/2019, 13:49 WIB
Driver ojek online menunggu order di kawasan perbelanjaan Mangga Dua, Senin (6/5/2019). Beberapa driver mengeluhkan titik penjemputan penumpang yang kian jauh, setelah penerapan Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 2019 soal penerapan tarif ojek online. KOMPAS.com/ TATANG GURITNODriver ojek online menunggu order di kawasan perbelanjaan Mangga Dua, Senin (6/5/2019). Beberapa driver mengeluhkan titik penjemputan penumpang yang kian jauh, setelah penerapan Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 2019 soal penerapan tarif ojek online.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 Tahun 2019 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi.

Per 1 Mei 2019, dua ojek online, Grab dan Go-Jek, telah menerapkan tarif baru tersebut.

Namun, beredar di media sosial bahwa naiknya tarif membuat ojol sepi order. Masyarakat memilih menggunakan transportasi umum lain agar lebih hemat.

Grab dan Go-Jek saling bersaing menggaet penumpang dengan memberikan promo. Tapi, benarkah kenaikan tarif tersebut membuat order sepi?

Baca juga: Mantan Ketua KPPU Minta Kemenhub Atur Promo Ojek Online

Deni (38), salah satu driver Go-Jek, menyatakan bahwa sebenarnya kenaikan tarif tak begitu berpengaruh pada pesanan. Ia sendiri tak mengalami sepi pesanan karena tak pernah pilih-pilih permintaan yang masuk. Menurut dia, sepi atau tidaknya order tergantung pengemudi sendiri.

"Semakin driver rajin, makin ada order dikasih. Apalagi kalau dia tahu titik yang ramai diorder, pasti ada terus (pemesannya)," ujar Deni, kepada Kompas.com.

Deni mengatakan, Go-Jek sempat tiga hari melakukan uji coba tarif baru. Namun, setelahnya kembali ke tarif lama. Ia pribadi mengaku tak mempermasalahkan tarif yang lebih tinggi atau yang berlaku saat ini. Menurut dia, yang terpenting adalah minat masyarakat masih tinggi untuk menggunakan ojek online.

Baca juga: RISED: 75 Persen Konsumen Tolak Kenaikan Tarif Ojek Online

Menurut dia, agar persaingan lebih sehat, lebih baik penyedia aplikasi menyamaratakan tarif ojol.

"Menurut saya kebijakannya diratain saja. Maksudnya, ketika tarif naik tapi order tidak ada, kan percuma," kata Deni.

"Mending tarifnya standar tapi order ada terus. Customer kan lebih milih tarif yang lebih murah, apalagi ada kompetitor," kata Deni.

Hal senada disampaikan Muhammad Kriswiyanto (39) yang juga driver Go-Jek. Ia sendiri tak mengalami masalah sepi order saat Go-Jek menaikkan tarif. Sebab, menurut dia, ojol sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa terlepas dari keseharian masyarakat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X