BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Schneider

Kenali Kebutuhan Manajemen Data Perusahaan, Kunci Raih Peluang Ekonomi Digital

Kompas.com - 23/05/2019, 11:00 WIB
Untuk menjaga agar keberlangsungan data center selalu terjaga, diperlukan infrastruktur fisik yang pintar dengan sistem monitoring terpadu. Hal itu berguna untuk memantau dan mencegah segala ancaman yang mengakibatkan matinya perangkat pada data center.
www.shutterstock.comUntuk menjaga agar keberlangsungan data center selalu terjaga, diperlukan infrastruktur fisik yang pintar dengan sistem monitoring terpadu. Hal itu berguna untuk memantau dan mencegah segala ancaman yang mengakibatkan matinya perangkat pada data center.

KOMPAS.com - Dunia saat ini tengah memasuki era revolusi industri 4.0, era di mana terjadinya disruptif teknologi secara masif.

Sebagai contoh, kini Anda tak melulu harus pergi ke pusat perbelanjaan hanya untuk membeli pakaian dan barang kebutuhan lainnya.

Cukup dengan sebuah smartphone dan aplikasi jual beli online, Anda bisa memilih jutaan keperluan barang yang tersedia.

Tak hanya itu, hadirnya Internet of Things (IoT), artificial intelligence, big data mining, genetic editing, mobil swakendara, serta superkomputer juga menjadi bukti nyata adanya revolusi industri generasi ke-4.

Disadari atau tidak, ternyata perubahan ini cukup berpengaruh terhadap semakin ketatnya persaingan global. Masing-masing individu maupun perusahaan harus menciptakan inovasi dan karya terbarunya agar tidak tenggelam akibat laju zaman.

Di sisi lain, bila mereka mampu memanfaatkan momentum ini secara efektif, maka meraih peluang memenangkan era ekonomi digital adalah bukan suatu kemustahilan.

Sebagai contoh, coba lirik industri ritel masa kini. Arus perkembangan teknologi yang begitu kencang perlahan menenggelamkan satu-persatu perusahaan ritel.

Untuk mengantisipasinya, dibutuhkan transformasi tata kelola perusahaan yang sesuai dengan zaman.

Transformasi ini misalnya adalah dengan membangun basis online dan berkolaborasi dengan berbagai marketplace yang dinilai memiliki lebih banyak peluang dalam era digital.

Nah, bila berbicara tentang era digital, maka topik data center atau pusat data akan mengemuka.

Hal ini karena digitalisasi sangat erat hubungannya dengan pusat data. Tanpa pusat data yang bagus dan reliable, digitalisasi akan sukar diwujudkan.

Ilustrasi masyarakat 5.0FREEPIK/jannoon028 Ilustrasi masyarakat 5.0
Lonjakan big data

Menurut data riset IHS Markit—perusahaan penyedia informasi global berbasis di London, perangkat digital yang telah terkoneksi pada manusia adalah sebesar 15,4 miliar perangkat pada 2015.

Jumlah tersebut diyakini akan terus bertambah pada 2020 sebesar 30,7 miliar perangkat dan menjadi 75,4 miliar perangkat pada 2025.

Sebuah angka yang fantastis karena angka total perangkat yang terhubung pada manusia tersebut jumlahnya 10 kali lebih banyak daripada hubungan antarmanusia itu sendiri.

Lonjakan big data dan konsumsi energi yang semakin besar ini seakan menuntut perusahaan untuk memiliki strategi pengelolaan pusat data agar dapat mengubah data menjadi informasi berguna.

Informasi ini pun dibutuhkan untuk pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat sasaran secara real time atau cepat.

Selanjutnya, strategi pengelolaan energi diperlukan pula perusahaan agar bisa berdampak langsung pada efisiensi biaya operasional dan peningkatan produktivitas.

Sementara itu, menurut data riset Ipsos Business Consulting, pertumbuhan pasar data center di Indonesia telah meningkat dua kali lipat sejak 2015 hingga 2018.

Terkait hal tersebut, Vice President of Secure Power Division Schneider Electric Indonesia, Yana Achmad Haikal mengungkapkan, tantangan ke depan bagi perusahaan adalah mengenali kebutuhan akan pengelolaan datanya.

Ilustrasi dataSHUTTERSTOCK Ilustrasi data
Misalnya, Yana mencontohkan, perusahaan ritel masa kini perlu mengombinasikan antara centralized data center on premise (data center yang terpusat), local edge data center (data center lokal yang penempatannya terdistribusi), dan cloud (tempat penyimpanan pada internet, metafora dari awan).

Hal itu perlu agar mereka dapat memastikan kelancaran arus lalu lintas data dari sisi kecepatan maupun besarnya data yang akan dikelola.

“Setelah mengenali kebutuhan pengelolaan data perusahaan, tantangan berikutnya adalah memastikan ketahanan dan keberlangsungan operasional di dalam ekosistem data center dan strategi pengelolaan energi yang lebih andal serta efisien dalam satu platform,” ujar Yana.

Berkaca pada kebutuhan tersebut, Schneider Electric pun berupaya untuk mengembangkan teknologi hybrid cloud melalui produk EcoStruxure. Teknologi dan produk ini bisa memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan data serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas dan anggaran perusahaan.

Untuk diketahui, platform hybrid cloud memanfaatkan kecanggihan artificial intelligence dan machine learning yang memungkinkan konsolidasi data dari berbagai aset infrastruktur data center di pusat cloud.

Teknologi ini juga memberikan analisa prediktif dan proaktif untuk pengambilan keputusan secara real time.

“Dengan EcoStruxure, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi energi hingga 30 persen, meningkatkan pengelolaan infrastruktur dan mengurangi risiko kendala listrik hingga 30 persen, serta menurunkan biaya operasional sampai 20 persen,” ujar Yana.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya