Pasar Bergejolak, Sri Mulyani Sebut Bukan Karena Kerusuhan

Kompas.com - 23/05/2019, 14:44 WIB
Konferensi pers KSSK di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (29/1/2019) KOMPAS.com/YOGA SUKMANAKonferensi pers KSSK di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (29/1/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, kondisi pasar, termasuk indeks harga saham gabungan ( IHSG) dalam beberapa hari terakhir dipicu kondisi global yang mengalami gejolak. Terutama perang dagang antara AS dan China yang makin memanas dan di luar ekspektasi pasar.

Hanya saja, momentumnya berbarengan dengan kerusuhan yang terjadi di beberapa titik di Jakarta pasca pengumuman hasil rekapitulasi suara pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ini membuat kondisi ekonomi dalam negeri, seperti merosotnya harga saham hingga pelemahan kurs rupiah dikaitkan dengan kondisi tersebut.

"Trigger awalnya yang dari luar negeri, terutama tindakan yang cukup drastis dari pemerintah AS yang agak tidak diantisipasi," kata Sri Mulyani di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Baca juga: Sri Mulyani Berharap Kerusuhan Segera Mereda

Sri Mulyani mengatakan, dalam pembahasan dan negosiasi perang dagang saat ini, sebenarnya sudah menunjukkan gelagat bahwa akan ada kata damai. Namun, tiba-tiba Presiden AS Donald Trump menyampaikan ketidakpuasan terhadap progres tersebut.

Trump pun membuat keputusan sepihak untuk menambah tarif impor China. Hal ini membuat seluruh pembuat kebijakan shock sehingga mempengaruhi pasar saham dan pasar obligasi, termasuk nilai tukar.

"Yang muncul surpise, diharapkan settled tapi ternyata ada turnaround yang besar," kata Sri Mulyani.

Sementara itu, dari dalam negeri, potensi ricuh sebenarnya sudah diantisipasi oleh investor dan pelaku usaha. Mereka sudah memperkirakan bahwa akan ada gejolak pasca penetapan presiden dan wakil presiden oleh KPU.

Oleh sebab itu, mereka mengantisipasinya sejak jauh hari.

Baca juga: Menko Darmin Nilai Wajar Rupiah dan IHSG Tertekan Hari Ini

Meski begitu, dampak yang diberikan terhadap perekonomian tidak signifikan. Faktanya, pada hari ini, rupiah dan IHSG kembali menguat.

"Saya rasa sampai hari ini masyarakat dan pelaku usaha masih positif. Mereka percaya situasi pasca pengumuman tetap baik," kata Sri Mulyani.

Hal senada disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, bahwa faktor global lebih dominan mempengaruhi perkembangan moneter. Pekan lalu, kata dia, SBN mengalami outflow setelah eskalasi peranag dagang sebesar Rp 7,3 triliun.

"Dalam 2 hari terakhir justru inflow Rp 1,7 triliun. Jadi eskalasi perang dagang memang sangat berpengaruh tak hanya di Indonesia, tapi juga negara lain," kata Perry.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X