Perang Dagang Untungkan Pasar Sarung Tangan Karet

Kompas.com - 27/05/2019, 20:14 WIB
Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk Ridwan Goh.Dok. PT Mark Dynamics Indonesia Tbk Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk Ridwan Goh.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perang dagang antara AS dan China ternyata memberi berkah bagi industri sarung tangan karet. Ini terkait adanya tarif impor yang dinaikkan oleh AS atas barang asal China dari 10 persen menjadi 25 persen.

Kondisi tersebut membuat industri sarung tangan karet berpotensi menggeser pasar sarung tangan Vinyl dan Nitrile produksi China yang saat ini menguasai 44 persen impor sarung ke AS.

Menurut Ridwan Goh, Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk, perang dagang dengan tarif impor yang tinggi ke AS atas produk China akan menggeser peta pasar sarung tangan AS.

“Pemasok utama sarung tangan akan bergeser dari China ke Malaysia sebagai produsen sarung tangan karet terbesar di dunia. Secara tidak langsung hal ini akan menjadi sinyal positif bagi kinerja perseroan”, kata Ridwan dalam pernyataannya, Senin (27/5/2019).

Baca juga: Indonesia Berpotensi Catat Pertumbuhan Permintaan Sarung Tangan Medis

Ridwan menyatakan, perseroan sebagai pemasok utama cetakan sarung tangan karet dunia memperoleh dampak turunan dari potensi peningkatan pasar sarung tangan karet. Saat ini, pemasok terbesar pasar sarung tangan adalah Malaysia dengan 63 persen, diikuti Thailand 18 persen, China 10 persen, dan Indonesia 3 persen.

Dengan kenaikan bea masuk, harga sarung tangan dari China menjadi tidak kompetitif.

"Yang lebih penting, perseroan diuntungkan dari perang dagang ini karena sebagai pemasok 35 persen cetakan sarung tangan karet dunia, dengan pasar utama Malaysia, perseroan akan menerima permintaan yang lebih besar”, sebut Ridwan.

Baca juga: Menjanjikan, Potensi Pasar Sarung Tangan Kesehatan di Negara Berkembang

Perseroan pada kuartal I 2019 mencatat peningkatan penjualan sebesar, 12,22 persen menjadi Rp 88,06 miiiar dibanding kuartal I 2018 sebesar Rp 78,47 miliar. Adapun laba komprehensif tercatat meningkat 26,48 persen menjadi Rp 23 miliar per 31 Maret 2019 dibandingkan Rp 18,19 miliar pada kuartal I 2018.

Sebesar 90,76 persen pendapatan perseroan pada kuartal I 2019 berasal dari pasar ekspor, dan sisanya sebesar 9,24 persen untuk pasar domestik.




Close Ads X