Fintech P2P Lending Rambah Pembiayaan Pertanian Jagung

Kompas.com - 28/05/2019, 20:46 WIB
Ilustrasi fintech.Shutterstock Ilustrasi fintech.

JAKARTA, KOMPAS.com - Hingga saat ini perbankan masih memiliki keterbatasan dalam menyalurkan kredit usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM). Dampaknya, masih banyak masyarakat di berbagai daerah belum tersentuh kredit.

Padahal, UMKM mempunyai peranan yang sangat krusial dalam pertumbuhan perekonomian sehingga perlu mendapatkan kemudahan dalam mengakses kredit.

Kemunculan teknologi keuangan alias fintech peer to peer lending (P2P) merupakan solusi keterbatasan bank dalam upaya peningkatan kredit UMKM. Fintech peer to peer lending bertindak sebagai lembaga jasa keuangan yang memberikan akses bagi UMKM yang layak mendapatkan pinjaman (creditworthy), namun kesulitan memperoleh kredit bank.

Baca juga: Jangan Lupa, Bijak dalam Pinjam Dana di Fintech

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) Kuseryansyah sempat menyebut, fintech P2P lending sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya yang belum terjangkau oleh perbankan (unbanked).

"Kehadiran fintech P2P lending sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia karena tingginya kebutuhan pembiayaan, terutama bagi mereka yang masuk di dalam segmen unbanked dan juga pelaku UMKM," sebut Kuseryansyah dalam keterangannya, Selasa (28/5/2019).

Fintech P2P lending Do-It, misalnya, baru-baru ini menyalurkan bantuan permodalan kepada 125 orang petani jagung di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Mereka diberikan bantuan pupuk dan bibit dengan nilai sebesar Rp 3 juta per hektar selama masa tanam.

Baca juga: Bankir: Fintech Bukan Lawan, tetapi Kawan...

“Bantuan permodalan ini merupakan hasil kerja sama kami dengan mitra setempat, yaitu PT Karya Bangun Informasi (KBI) yang akan menjamin ketersediaan pupuk dan benih secara tepat waktu untuk memaksimalkan hasil produksi,” ungkap Kadi, Direktur Do-It.

Dana pinjaman tersebut akan dialokasikan untuk pengelolaan lahan seluas 125 hektar, termasuk pembelian pupuk, pestisida dan bibit jagung unggulan. Pinjaman modal kerja ini menggunakan sistem tanggung renteng antara sesama anggota kelompok tani guna memitigasi risiko kredit.

Dengan demikian, biaya bunga yang dibayarkan oleh petani lebih ringan. Program ini dijamin asuransi pertanian dari Jasindo untuk memberikan perlindungan terhadap risiko gagal panen.

"Program kerja sama ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap kelompok masyarakat produktif untuk memaksimalkan produksi serta harga jual,” terang Kadi.

 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X