Bertemu Menteri Jepang, Mendag Bahas Meningkatnya Proteksionisme Perdagangan Global

Kompas.com - 29/05/2019, 19:38 WIB
Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita dalam paparan kinerja dan outlook capaian 2019 di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019).KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita dalam paparan kinerja dan outlook capaian 2019 di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita baru saja melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Hiroshige Seko hari ini, Rabu (29/5/2019).

Di dalam pertemuan tersebut, Enggar mengatakan, baik dirinya maupun Menteri Seko memiliki perhatian terhadap isu proteksionisme perdagangan yang kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Nantinya, isu mengenai proteksionisme ini akan diangkat dalam pertemuan G20 di Osaka, Jepang.

"Mengenai proteksionisme di dunia, kita menyatakan multilateral trading system sudah terancam, kita menyatakan tetap bertahan dengan multilateral trading system. Itu adalah sesuatu yang kita pegang bersama," ujar Enggar di Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Baca juga: Neraca Perdagangan Defisit, Ini Komentar Sri Mulyani

Kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionis, yang dipicu oleh terjadinya perang tarif antara Amerika Serikat dan China dianggap bisa mengancam sistem perdagangan antara negara-negara dunia.

"Kita harus menyuarakan suara yg sama jangan ada proteksionime yang berlebihan. Kalau itu maka liberalisasi perdagangan yang kita sepakati tidak akan berjalan," ujar dia.

Jepang pun menawarkan konsep free flow with trust, atau pertukaran data antar beberapa negara.

Free flow with trsut sendiri merupakan sebuah konsep yang ditawarkan oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, beberapa waktu lalu.

Dalam acara tersebut, Abe mengutarakan misinya mengenai penumpnanan data tanpa batas negara dan tata kelola data di seluruh dunia untuk mendukung perkembangan society 5.0.

Dengan diterapkannya konsep ini, diharapkan, setiap negara yang saat in memiliki aturan-aturan serta sensitifitas tersendiri mengenai data bisa saling terintegrasi dan saling menguntungkan negara-negara yang terlibat di dalamnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X