Bos Go-Jek Sebut Tak Cuma Andalkan Transportasi Online agar Untung

Kompas.com - 30/05/2019, 13:50 WIB
CEO Go-Jek Nadiem Makarim dalam acara peresmian ekspansi  Go-Jek ke Hanoi, ibukota Vietnam, lewat brand Go-Viet pada Rabu (12/9/2018).Oik Yusuf/KOMPAS.com CEO Go-Jek Nadiem Makarim dalam acara peresmian ekspansi Go-Jek ke Hanoi, ibukota Vietnam, lewat brand Go-Viet pada Rabu (12/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - CEO Go-Jek Nadiem Makarim menyatakan, startup Indonesia tak perlu mendirikan bisnis transportasi online untuk bisa menghasilkan uang.

Go-Jek sendiri, selain mengandalkan ride hailing, juga mengembangkan bisnis pengantaran makanan yang kontribusinya signifikan bagi pendapatan mereka.

"Aset paling kuat dari Go-Jek adalah bahwa kita tidak perlu ride-hailing roda empat untuk meraup untung," ujar Nadiem sebagaimana dikutip dari Nikkei Asian Review, Kamis (30/5/2019).

Ride-hailling merupakan konsep bisnis transportasi berbasis digital dengan rasa kendaraan pribadi, di mana hanya ada Anda dan pengemudi dalam satu kendaraan. Berbeda dengan ride sharing, Anda juga bisa menentukan sendiri rute yang akan dilewati.

Baca juga: Apresiasi Pengemudi, Go-Jek Luncurkan Kampanye Traktir Driver

Nadiem menambahkan, ride hailing hanya mewakili kurang dari seperempat total nilai transaksi bruto Go-Jek.

"Dari makanan ( Go-Food) lebih besar dan pembayarannya bahkan lebih besar," lanjut dia.

Nampaknya Go-Jek belajar dari kegagalan Uber yang terus merugi dari tahun ke tahun dengan hanya mengandalkan jasa ride hailing. Nadiem mengatakan, pihaknya membangun bisnis dengan asumsi ride hailing hanya pada titik impas, di mana tidak memperoleh keuntungan maupun tidak merugi.

Jadi, bahkan saat Go-Jek mendapat profit dalam ride hailing diistilahkan sebagai skenario yang optimistis.

Baca juga: Ini Jurus Nadiem Makarim supaya Go-Jek Terus Menang

Pernyataan tersebut muncul di tengah rasa skeptis yang berkembang atas model ride hailing menyusul penawaran umum perdana Uber bulan ini. Kemunculan startup Silicon Valley sebagai pelopor bisnis transportasi berbasis aplikasi itu lantas membuatnya menjadi perusahaan teknologi swasta terbesar di dunia.

Namun, sahamnya anjlok dalam debut pasar setelah mengungkapkan kerugian besar. Hal ini menimbulkan pertanyaan atas penilaian tinggi terhadap unicorn ride hailing di tempat lain.

Sementara itu, Go-Jek dipandang sebagai bagian dari gelombang bisnis seperti Uber ketika meluncurkan aplikasi ojek online pada Januari 2015. Namun, Nadiem menegaskan bahwa Go-Jek berbeda dengan perusahaan serupa.

Baca juga: Go-Jek Sudah Decacorn, Kapan Traveloka dan Bukalapak Menyusul?

Ia mengatakan, ride hailing merupakan komponen penting bagi bisnis Go-Jek karena layanan yang paling sering digunakan untuk menarik pengguna ke aplikasi. Di samping itu, layanan tersebut juga menjadi sumber pendapatan konstan untuk 2 juta mitra pengemudinya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X