Jangan (lagi) Terjepit di SARAF-P2

Kompas.com - 02/06/2019, 11:00 WIB
Ilustrasi KOMPAS/DIDIE SWIlustrasi

Termasuk di sini adalah bergurau atau mungkin sekedar update status atau nge-twit melalui platform Media Sosial, karena kami menganggap Media Sosial sama posisinya sebagaimana khalayak masyarakat yang hadir secara fisik dalam suatu acara.

Ya dia terjepit di SARAF-P2, sebuah saraf super sensitive yang merupakan singkatan dari kumpulan beberapa hal yang sangat tabu dan berbahaya untuk dijadikan humor selama public speaking atau presentasi dilakukan. Dan ini adalah bagian dari High Impressive Presentation Skill.

Pertanyaannya, mengapa SARAF-P2 berbahaya digunakan sebagai guyonan?

Jawabannya adalah, karena pada hakikatnya SARAF-P2 ini merupakan hal-hal sensitif yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal. Oleh sebab itu berdasarkan kajian empiris yang kami lakukan, menyimpulkan bahwa SARAF-P2 harus dihindari untuk digunakan sebagai bahan candaan selama anda menyajikan sebuah Presentasi atau berbicara didepan umum.

SARAF-P2 terdiri dari:

S untuk Suku, ya meskipun kita tahu suku-suku tertentu yang ada di Indonesia memiliki kebiasaan khas yang pasti lucu bagi suku yang lain secara umum. Namun jelas topik suku adalah sesuatu yang sangat sensitif.

Jadi jangan digunakan meskipun anda tahu yang hadir dalam presentasi atau acara tersebut adalah dari suku yang sama. Karena, tidak ada jaminan diantara peserta yang hadir dalam presentasi tersebut tidak membawa HP yang saat ini bisa digunakan untuk merekam gambar maupun suara.

Dan tidak ada halangan bagi mereka untuk share di media social, ini yang sangat berbahaya.
A untuk Agama, apalagi yang satu ini, juga sangat peka dan jangan sekali-kali digunakan sebagai bahan guyonan, sudah pasti banyolan tersebut tidak akan lucu.

Walaupun kita tahu setiap agama memiliki ritual ibadah yang terkadang unik dan bahkan agak lucu bagi pememluk agama lain, maka wahai saudaraku janganlah engkau gunakan agama dan keyakinan tertentu sebagai bahan candaan, namun jika sang pembicara “ngotot” menggunakan agama sebagai bahan stand up komedi, maka sungguh dia akan ada dalam kesesatan yang nyata.

R untuk Ras, ras atau jenis keturunan manusia tertentu memang memiliki berbagai macam kebiasaan dan cara hidup yang berbeda. Dan memang cara dan kebiasaan tersebut sering dijumpai sebagai sesuatu yang lucu.

Namun demikian, kelucuan tersebut bersifat relatif, artinya lucu bagi ras lain, dan sangat serius alias tidak lucu bagi ras tersebut, oleh sebab itu jangan gunakan ras sebagai bahan humor meskipun anda tahu semua yang hadir didalam persentasi anda dari 1 ras yang sama.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X